Thumbnail artikel sirosis

Patofisiologi dan Patogenesis Sirosis Hati

Cecep Suryani Sobur Topik-topik Utama, Hepatologi, Kedokteran 2 Comments

Memahami proses terjadinya atau patogenesis sirosis hati sangatlah penting. Definisi dari sirosis hati adalah keadaan jaringan hati yang dicirikan dengan adanya nodul regeneratif yang dikelilingi oleh jaringan parut atau fibrosis yang disebabkan oleh respon akibat dari berbagai proses kerusakan atau penyakit hati yang menahun atau kronik. Sirosis hati banyak dijumpai di Indonesia terutama akibat dari hepatitis viral kronis baik hepatitis B maupun hepatitis C. Sirosis juga banyak dijumpai pada kelompok dengan kecanduan alkohol yang berat. Umumnya sirosis disertai dengan gagal hati berupa fungsi hati yang menurun yang tidak mampu menjalankan fungsinya secara baik. Pada kesempatan kali ini, kita berbicara mengenai proses patogenesis sirosis hati serta patofisiologi komplikasi akibat dari sirosis tersebut.

Etiologi/Penyebab Sirosis Hati

Seperti dijelaskan di atas, sirosis hati disebabkan karena kerusakan atau penyakit hati yang bersifat kronis atau menahun. Banyak kondisi yang menyebabkan proses kerusakan kronik tersebut. Berikut ini adalah penyebab yang mendasari terjadinya sirosis hati:

  • Alkoholisme
  • Sirosis kardiak (kerusakan hati yang disebabkan kerusakan atau gagal jantung)
  • Hepatitis viral kronis
  • Hepatitis autoimun
  • Steatohepatitis non alkoholik/non-alcoholic steatohepatitis (NASH)
  • Sirosis bilier
    • Primary biliary cirrhosis
    • Primary sclerosing cholangitis
    • Kolangiopati autoimun
    • Atresia bilier
  • Penyakit metabolik hati yang diturunkan
    • Hemokromatosis
    • Penyakit Wilson
    • Defisiensi α1 antitripsin
    • Cystic fibrosis
    • Glycogen storage disease
    • Abetalipoproteinemia
    • Porphyria
  • Obstruksi aliran vena hepatika
    • Sindrom Budd-Chiari
    • Penyakit veno-oklusif
    • Gagal jantung kanan
  • Obat dan toksin
  • Bypas intestinal
  • Sirosis kriptogenik

Patogenesis Sirosis Hati: Peranan Sentral Fibrosis

Peristiwa penting dalam patogenesis sirosis hati adalah pembentukan jaringan parut atau fibrosis. Fibrosis ini dimulai dengan aktivasi sel stelata. Aktivasi ini melibatkan banyak faktor termasuk peradangan sel hati, sel Kupffer, sel endotel, trombosit, berbagai sitokin, dan miRNA. Saat peradangan, sel Kupffer akan menghancurkan hepatosit dan mengaktivasi sel stelata. Akibatnya, munculah pembentukan jaringan fibrosis. Di bawah ini adalah arsitektur hati yang normal disertai perubahan arsitektur saat terjadi kerusakan pada jaringan hati:

Perubahan arsitektur hati akibat cedera
Gambar paling kiri, arsitektur normal hati. Vena hepatika terminal (CV) berada di tengah “lobul” sedangkan vena porta (PV) berada di perifer. Daerah parenkima di sekitarnya disebut periporta dan sentrilobular. Pada model asinar, berdasarkan aliran darah terdapat tiga zona dimana zona 1 terdekat dengan suplai darah. BD, Bile duct; HA, hepatic artery. Gambar tengah dan samping kanan merupakan skema perubahan hepatoseluler dan pembentukan jaringan parut. A, Liver yang normal. B, Proses kematian sel hati seperti pada peradangan atau sumabtan pembuluh darah (biru tua). C, Parenkim kosong menyebabkan kolaps dan mulai terbentuk parut (coklat). D, Jaringan parut berkontraksi dan menebal memebntuk septa sedangkan pembuluh darah yang tersumbat menghilang. E, Septa memanjang dan terjadi resorpsi jaringan parut. F, Septa direabsorpsi. Traktus porta tersissa tanpa adanya vena porta.

Pada gambar di atas, adalah bentuk arsitektur jaringan hati normal yang disebut asinus. Posisi sel hati sedemikian rupa untuk memaksimalkan aliran darah serta kontak darah dengan sel hati. Hal ini dikarenakan fungsi hati sebagai organ metabolisme, memproses banyak zat yang masuk ke saluran cerna kemudian dialirkan ke vena porta dan masuk ke hati terlebih dahulu untuk diproses sebelum masuk ke peredaran darah sistemik melalui vena hepatika.

1) Perubahan Arsitektur Jaringan Hati Akibat Kerusakan Akut dan Kronik

Gangguan arsitektur struktur hati akan mengganggu fungsi hati. Apabila ada kerusakan jaringan, maka bagian yang sangat sensitif adalah bagian pembuluh darah. Pembuluh darah menjadi tertutup dan akhirnya sel hati akan mati. Respon terhadap kerusakan ini tentu dalah proses peradangan. Peradangan akan membersihkan jaringan yang mati disertai dengan regenerasi sel hati. Walaupun sel hati bisa beregenerasi dengan baik, namun penunjang lain seperti pembuluh darah ternyata memiliki regenerasi yang terbatas. Selain itu, efek samping dari peradangan adalah terbentuknya jaringan parut. Hasil akhir dari proses ini adalah hilangnya struktur asinar yang normal serta adanya jaringan parut.

Proses kerusakan yang akut biasanya tidak menimbulkan sisa yang banyak. Akan tetapi, apabila proses kerusakan berlangsung lama atau kronik, maka sisa kerusakan terutama jaringan parut semakin besar. Selain itu, berkat adanya aktivasi sel stelata, pembentukan jaringan parut pada kondisi peradangan kronis bisa lebih cepat sehingga fibrosis yang terjadi berlangsung dalam skala yang lebih luas.

2) Fase Awal Terjadinya Sirosis

Pada tahap awal, pembentukan jaringan parut atau fibrosis diimbangi oleh degradasi dari protein ini. Progresivitas dimana proses degradasi akan dikalahkan oleh pembentukan jaringan parut akan terjadi apabila proses deposisi jaringan parut menjadi lebih domian. Matriks metaloproteinase mengontrol proses deposisi dan degradasi jaringan parut tersebut. Regulator enzim matriks metaloproteinase ini berupa tissue inhibitors of metalloproteinase (TIMP). Sel stelata yang teraktivasi akan menghambat regulator enzim ini dan lebih mempromosikan pembentukan jaringan parut. Gambaran proses yang merangasang pembentukan jaringan parut ini dapat disimak pada gambar di bawah:

Perubahan sinusoid hati pada patogenesis sirosis hati
Perubahan sinusoid hati pada sirosis

3) Perubahan Sistem Sinusoid pada Proses Terjadinya Sirosis Hati

Berbeda dari kapiler di tempat lain, sinusoid dari kapiler hati tidak memiliki membran basalis. Selain itu, sinusoid juga memiliki lubang atau fenestrae yang bebsar (diameter 100-200 nm) yang memungkinkan keluar atau pasase molekul besar sampai 250.000 kDa. Hal ini berkaitan dengan fungsi hati untuk memproses berbagai macam molekul besar misalnya VLDL atau kilomikron dari saluran cerna. Selain itu, sel hati juga aktif memproduksi berbagai macam protein plasma berukuran besar. Agar proses transportasi ini berlangsung lancar tentu harus ditunjang oleh struktur kapiler sinusoid yang bisa mengakomodasi pertukaran zat dengan besar molekul yang besar.

Pada keadaan sirosis hati, terjadi deposisi kolagen di celah Disse. Hal ini akan menyempitkan fenestrae dari sunusoid sehingga mengganggu aliran plasma ke hepatosit. Proses ini dinamakan kapilerisasi dari sinusoid. Hal ini akan berdampak pada gangguan fungsi hati dan terganggunya tekanan darah di sistem vena porta sehingga menyebabkan hipertensi portal. Hipertensi portal ini penting dalam patofisiologi berbagai komplikasi dari sirosis hati. Di bawah ini adalah bagan bagaimana terjadi perubahan atau kapilersiasi dari sinusoid hati:

Proses kapilerisasi sinusoid pada sirosis hati
Proses kapilerisasi sinusoid pada sirosis hati. A adalah gambawan sinusoid yang normal. Pada B, tampak deposisi jaringa prut di celah Dise (antara sel endotel dengan hepatosit) dan mengecilnya ukuran fenestrae. Akibatnya sinusoid menjadi lebih kecil.

4) Peran Sentral Sel Stelata pada Patogenesis Sirosis Hati

Seperti dijelaskan di atas, sel stelata di hati memegang peranan penting dalam proses terjadinya sirosis. Aktivasi sel stelata ini sebagian besar disebabkan karena stimulus inflamasi. Sel stelata sendiri diperkirakan berasal dari berbagai macam sumber, seperti diperlihatkan di bawah ini:

Proses aktivasi sel stelata
EMT: Epithelial mesenchymal transition; MFBs: Myofibroblasts; HSCs: Hepatic stellate cells.

Untuk proses sirosis sendiri, sel stealta dapat mempengaruhi deradasi matriks ekstraseluler, proliferasi sel fibroblas, kontraktilitas dari matriks hati, hilangnya arsitektur pendukung sel hati, kemotaksis sel radang, inisiasi inflamasi, dan fibrogenesis. Bagan di bawah ini adalah aksi sel stelata dalam melaksanakan proses-proses tersebut.

Peranan sel stelata yang aktif pada patogenesis sirosis hati
MMP: Matrix metalloproteinase; TIMP: Tissue inhibitor of matrix metalloproteinase; ADAMS2: A disintegrin and metalloproteinase 2; PDGF: Platelet derived growth factor; VEGF: Vascular endothelial growth factor; TGF-α: Transforming growth factor-α; EGF: Epidermal growth factor; bFGF: Basic fibroblast growth factor; TGF-β1: Transforming growth factor-β1; CTGF/CCN2: Connective tissue growth factor; ET-1: Endothelin 1; NO: Nitric oxide; FXR: Farnesoid X receptor; PPARγ: Peroxisome prolife- rators activated nuclear receptorsγ; ADRP: Adipose differentiation related protein

Untuk proses lebih detil mengenai sel stelata pada sirosis ini dapat disimak pada artikel ini: Sel Stelata dan Peranannya pada Penyakit Sirosis dan Kanker Hati

Histopatologi Sirosis Hati

Sirosis hati melibatkan perubahan difus atau keseluruhan hati berupa nodul parenkim yang beregenerasi, dikelilingi oleh jaringan parut disertai berbagai derajat pirau vaskuler. Munculnya jaringan parut atau fibrosis ini penting dalam proses patogenesis sirosis hati. Namun, tidak semua kasus sirosis berakhir pada keadaan gagal hati kronik dan tidak semua penyakit hati stadium akhir berupa sirosis. Contohnya, pada primary biliary cirrhosis, primary sclerosing cholangitis, nodular regenerative hyperplasia, schistosomiasis kronik, dan fibropolycystic liver disease dimana pada keadaan stadium akhir, hati penderita tidak bercirikan sirosis.

MAkroskopis sirosis hati
Gambaran sirosis akibat hepatitis viral. Tampak area cekungan akibat jaringan ikatan yang mengelilingi nodul regeneratif yang berupa benjolan-benjolan kecil yang merata di seluruh hati.

Adanya nodul regeneratif tersebut berkaitan dengan adanya reaktivasi duktular pada keadaan peradangan yang menahun. Besaran progresivitas reaktivitasi duktular ini bergantung pada:

  • Fungsi sel punca hati meningkat ketika jaringan hati yang ada mengalami penuaan replikasi setelah bertahun-tahun mengalami derajat turnover yang tinggi
  • Reaksi duktular menyebabkan jaringan parut di hati yang menyebabkan peningkatan progresivitas penyakit hati.

Di bawah ini adalah perbandingan antara jaringan hati yang normal dengan jaringan hati yang mengalami sirosis. Tampak gambaran arsitektur asinar yang masih jelas pada jaringan hati yang normal. Pada jaringan hati sirosis, gambaran asinar tidak jelas, struktur pembuluh darah menghilang, dan tampak penumpukan jaringan parut atau fibrosis yang massif.

Perbandingan jaringan hati normal dengan jaringan hati yang mengalami sirosis
Perbandingan jaringan hati normal dengan jaringan hati yang mengalami sirosis. Tanda panah menunjukan deposit dari jaringan parut atau fibrosis.

Regresi dari Sirosis Hati

Walaupun jarang, dapat terjadi regresi atau perbaikan pada jaringan hati yang mengalami sirosis. Di masa lampau, tidak dikenal ada perbaikan atau pembalikan reaksi sirosis. Namun, dengan ditemukannya pengobatan untuk menghentikan proses penyebab sirosis secara efektif, banyak bukti yang didapat mengenai perbaikan keadaan hati pada pasien yang telah mengalami sirosis.

Gambaran histologi hati yang sirosis dan yang mengalami perbaikan
Gambaran sirosis pada pasien akibat kecanduan alkohol (A). Setelah berhasil mengentikan kebiasaan meminum alkohil, tampak perbaikan kondisi sirosis dimana jaringan parut tampak semakin menipis (B).

Proses regresi atau perbaikan dari sirosis dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Yang paling penting adalah menghentikan faktor yang memulai proses patogenesis dari sirosis hati seperti terapi hepatitis kronis. Di bawah ini adalah bagan bagaimana terjadinya regresi pada sirosis hati.

Faktor regresi sirosis hati
TGF-β, transforming growth factor β; CCL2, C-C motif chemokine ligand type 2; IL, interleukin; TNF-α, tumor necrosis factor α; PDGF, platelet-derived growth factor; MMP, matrix metalloproteinase; CB1, cannabinoid receptor 1; PPAR-γ, peroxisome proliferator-acti- vated receptor γ; NK, natural killer.

Staging Fibrosis Hati

Berbagai macam sistem dikembangkan untuk menilai derajat fibrosis dari jaringan hati. Yang paling banyak digunakan adalah METAVIR (F0, F1, F2, F3, F4) dan Ishak (F0, F1, F2, F3, F4, F5, F6). Pada sistem METAVIR, disebut sirosis apabila sudah F4. Penilaian tersebut berdasarkan dari hasil biopsi.

Terdapat cara lain untuk menilai derajat fibrosis. Di Indonesia, yang paling banyak digunakan adalah transient elastography atau Fibroscan. Cara lain adalah dengan menggunakan pemeriksaan beberapa marker atau kimiawi dari darah seperti APRI atau Hepascore.

Skema tahapan fibrosis menurut elastografi
Derajat fibrosis hati berdasarkan transient elastography (Fibroscan)

Patofisiologi Komplikasi Klinis Sirosis

Tedapat dua kelompok besar dampak atau yang berperngaruh terhadap patofisiologi sirosis hepatis. Pertama adalah hipertensi portal dan kedua adalah insufisiensi atau gagal hati. Konsekuensi langsung dari hipertensi portal dan kondisi hiperdinamik adalah terjadinya asites dan varises esofagus. Selain itu, pada asites juga dapat terjadi komplikasi infeksi yang disebut spontaneous bacterial peritonitis (SBP). Terjadinya SBP ditambah adanya kondisi hiperdinamik akan semakin mengurangi perfusi k eginjal sehingga menyebabkan gagal ginjal fungsional yang disebut hepatorenal syndrome (HRS).

Patofisiologi sirosis hati sebagai penyebab hipertensi portal dan insufisiensi hati
Komplikasi sirosis sebagai akibat dari hipertensi portal dan insufisiensi hati.
Skema dampak dari sirosis hati
Berbagai jenis komplikasi sirosis

Kelompok komplikasi yang kedua adakah gangguan metabolisme akibat fungsi hati yang menurun. Jaundice atau ikterus terjadi sebagai akibat ketidakmampuan hati mengeluarkan bilirubin. Ensefalopati disebabkan baik oleh insufisiensi hati maupun hipertensi portal. Kemampuan tubuh yang berkurang dalam mengolah homron pada wanita menyebabkan hipogonadisme seperti oligomenorrhea, amenorrhea, dan steril.

Kemampuan hati dalam memproduksi berbagai macam protein juga menurun. Akibatnya adalah adanya hipoalbumin dan sebagai kompensasi, kadar globulin meningkat. Hal ini menyebabkan rasio albumin globulin terbalik (<1,0). Fungsi hati dalam produksi faktor koagulasi khususnya yang terlibat dalam jalur intrinsik juga berkurang. Defisiensi faktor pembekuan ini menyebabkan pemanjangan PT dan koagulaopati.

1) Hipertensi Portal dan Kondisi Sirkulasi Hiperdinamik

Hipertensi portal adalah kenaikan tekanan darah pada sistem portal. Sistem ini mengalirkan darah terutama dari organ visera di abdomen seperti usus ke hati. Hipertensi portal penting dalam patofisiologi sirosis hati. Pada sirosis, hipertensi portal disebabkan oleh peningkatan resistensi sistem porta dan meningkatnya aliran vena porta. Peningkatan resistensi vaskular sinusoidal in disebabkan oleh:

  1. Penumpukan jaringan fibrosa dan kompresi dari nodul regeneratif
  2. Vasokonstriksi aktif yang dapat dikurangi oleh aktivitas vasodilator seperti nitroprusid. Vasokonstriksi ini disebebkan berkurangnya NO pada hati dan kenaikan aktivitas vasokonstriktor.

Pada proses hipertensi portal di awal, limpa membesar dan melakukan sequestrasi platelet dan komponen darah lainnya sehingga menyebabkan hipersplenisme. Selain itu, sistem pembuluh darah yang pada keadaan normal mengalirkan darah ke sistem vena porta alirannya berbalik. Aliran yang tadinya ke sistem vena porta beralih ke sistem pembuluh darah sistemik. Sistem pembuluh darah ini misalnya adalah vena koroner.

Sistem kolateral portosistemik ini tidak cukup untuk dekompresi sistem vena porta sehingga menambah resistensi porta lebih lanjut lagi. Peningkatan tekanan darah di sistem vena porta akan menyebabkan reaksi vasodilasi dari pembuluh darah splanchnic. Namun, vasodilatasi tersebut diikuti peningkatan aliran darah ke sistem vena porta sehingga walaupun ada kolateral, tetap terjadi hipertensi porta.

Vasodilatasi sistem splanchnic disebabkan peningkatan produksi NO. Dari sini dapat dilihat adanya suatu paradoks. Berkurangnya produksi NO di intrahepatik menyebabkan peningkatan resistensi vaskular dan berujung pada hipertensi portal. Adapun peningkatan produksi NO di ekstrahepatik menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan aliran darah dan juga menyebabkan hipertensi portal.

Akibat adanya hipertensi portal, maka plasma akan keluar sehingga terjadinya asites. Keluarnya plasma ini menyebabkan berkurangnya volume darah efektif di arteri sistemik. Hal ini menyebabkan vasodialtasi sistemik serta mengaktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron. Akiabtnya, terjadilah retensi natrium, peningaktan volume palsma, dan terjadilah sirkualsi hiperdinamik. Sirkulasi hiperdinamik ini akan mempertahankan keadaan hipertensi portal sehinga kemudian menimbulkan terbentuknya varises dan kompliaksi sirosis lainnya.

2) Varises dan Perdarahan Varises Esofagus

Terbentuknya kolateral esofagus terjadi ketika gradien tekanan vena hepatika mencapai 10-12 mmHg. Selain adanya tekanan ini, terjadinya sirkulasi hiperdinamik juga turut menyumbang akan etrbentuknya varises esofagus. Dilatasi dan peningaktan tekanan yang terus menerus bisa menimbulkan pecahnya varises dan terjadinya perdarahan saluran cerna yang bisa berakibat fatal.

3) Ikterik

Iketrik adalah penumpukan blirubin dalam darah. Pada sirosis, hati tidak lagi mampu mengeluarkan atau memproses bilirubin dengan baik. Terkadang bilirubin bukan disebabkan oleh insufisiensi namun disebabkan adanya gangguan pada sistem bilier. Selain dengan ultrasonografi, petanda insufisiensi lainnya seperti PT yang memanjang bisa membantu membedakan ikterik akibat insufisiensi hati dengan iketrik penyebab lainnya.

4) Palmar Eritema dan Spider Nevi

Spider nevi adalah salah satu ciri dari sirosis hati berupa pelebaran pembuluh darah di perifer yang nampak seperti laba-laba. Apabila bagian tengah dari spider nevi ini ditekan, maka spider nevi akan menghilang. Sebenarnya spider nevi juga dapat ditemukan pada tirotoksikosis, kondisi estrogen yang berlebih seperti penggunaan kontrasepsi hormonal atau kehamilan. Kondisi sirosis yang menyebabkan adanya spider nevi adalah meningkatnya kadar estrogen dalam darah. Spider nevi ini biasanya tampak jelas di bagian badan terutama daerah dada.

Estrogen dimetabolisme di hati sehingga pada keadaan sirosis, estrogen menjadi berakumulasi. Keadaan lain yang berhubungan dengan peningkatan kadar estrogen ini pada penderita sirosis adalah palmar eritem, ginekomastia, dan atrofi otot. Palmar eritem adalah kemerahan di daerah telapak tangan. Baik palmar eritem maupun spider nevi dapat disimak di gambar di bawah ini:

Gambaran palmar eritem dan spider nevi
Gambar kiri palmar eritem dan spider nevi gambar kanan.

5) Ensefalopati Hepatikum

Ketika terjadi insufisiensi hati, maka fungsi hati dalam mengolah racun akan berkurang. Salah satu racun yang dibuang oleh ahti adalah amonia. Amonia ini penting dalam terjadinya enseffalopati hepatikum. Selain itu, amonia juga meningakt di sistem darah sistemik karena adanya kolateral dari portal ke sistemik.

Peningkatan amonia di otak merusak astrosit dan menyebabkan kerusakan struktural serupa dengan astrositosis Alzheimer tipe II. Amonia ini menyebabkan peningkatan regulasi reseptor benzodiazepin tipe perifer pada strosit. Reseptor ini merupakan stimulan poten untuk produksi neurosteorid. Neurosteorid bersifat modualtor mayor dari asam γ-aminobutirat yang menyebabkan depresi kortikal dan ensefalopati hepatikum. Toksin lain seperti mangan juga berakumulasi di globus palidus menyebabkan gangguan fungsi motorik.

Selain gangguan kesadaran, tanda adanya ensefaloapti hepatikum adalah adanya steriksis atau flaping tremor. Video di bawah ini adalah pemeriksaan asteriksis yang ditemukan pada pasien dengan ensefalopati hepatikum.

6) Komplikasi Kardiopulmoner

Terjadinya keadaan sirkulasi hiperdinamik dapat menyebabkan gagal jantung high output. Kondisi ini dicirikan dengan rendahnya utilisasi oksigen di jaringan dan dibamakan kardiomiopati sirotik. Vasoldilatasi pada pembuluh darah paru akan menyebabkan hipoksemia arterial, disebut sebagai sindrom hepatopulmoner. Kapiler paru normal berdiameter 8 μm dan sesuai dengan ukuran eritrosit sehingga difusi dapat berlangsung optimal.

Dalam keadaan sirosis, diameter kapiler paru dapat bertambah sampai 500 μm sehingga mengganggu difusi oksigen dari alveolus ke ertitrosit sehingga saturasi oksigen akan turun.

Prognosis Sirosis Hati

Angka harapan hidup pasien dengan sirosis tergantung dari stadium serta kondisi dekompensasi dari hati. Kesintasan 10 tahun pasien sirosis yang tetap terkompensasi sekitar 90%. Jika sudah mengalami dekompensasi kesintasan 10 tahun kurang dari 50%. Kesintasan ini juga dipengaruhi komplikasi penyakit lainnya, seperti adanya kanker hati, dan lain sebagainya.

Prognosis sirosis hati
Perjalanan penyakit dan kesintasan pennyakit sirosis hati.

FAQs ( Frequently Asked Questions)

Apakah itu sirosis hati?

Keadaan jaringan hati yang dicirikan dengan adanya nodul regeneratif yang dikelilingi oleh jaringan parut atau fibrosis yang disebabkan oleh respon akibat dari berbagai proses kerusakan atau penyakit hati yang menahun atau kronik

Apa penyebab dari sirosis hati?

Kerusakan atau penyakit hati yang bersifat kronis atau menahun. Banyak kondisi yang menyebabkan proses kerusakan kronik tersebut. Misalnya hepatitis B kronik, hepatitis C kronik, penyakit hepatitis autoimun, hepatitis akibat perlemakan hati (NASH), sirosis bilier, sirosis kardiak (akibat gagal jantung), sirosis kriptogenik, dll

Apa ciri khas dari gambaran sirosis hati?

Hilangnya arsitektur normal hati terutama vaskularisasi, munculnya gambaran pita fibrosis yang luas dan massif. Secara makroskopis, bentuk hati jadi penuh nodul dan ukurannya mengecil

Apakah sirosis hati bisa sembuh?

Dahulu sirosis dikatakan tidak bisa sembuh. Namun sekarang ada bukti bahwa setelah penyebab sirosis diatasi, maka hati dapat pulih namun dengan batas-batas tertentu. Saat ini dengan adanya transplantasi hati, sirosis dapat disembuhkan dengan metode tersebut.

Apa saja komplikasi dari sirosis hati?

Secara garis besar terdapat komplikasi metabolik dan komplikasi akibat hipertensi portal. Komplikasi metabolik adalah hilangnya fungsi hati dalam mengolah limbah dan memproduksi protein. Efeknya seperti hipoalbumin, ensefalopati hepatikum, hipogonadisme, ikterik, dll. Kedua adalah efek hipertensi portal karena aliran darah sulit melewati hati. Efeknya adalah varises esofagus/gaster, asites, splenomegali, dll

Bagaimana tingkat harapan hidup penderita sirosis hati?

Secara umum sirosis dibagi dua yaitu penderita dengan fungsi hati yang masih ada atau sirosis terkompensasi dan sirosis dengan fungsi hati yang lebih buruk atau sirosis dekompensata. Pada sirosis terkompensasi, median survival > 12 tahun. Sedangkan pada sirosis dekompensata median survival ~ 1,6 tahun

Buku Referensi Kedokteran

Berikut ini adalah beberapa buku teks yang dapat dipilih sebagai bahan pembelajaran khususnya di bidang ilmu dasar kedokteran dan penyakit dalam. Format dapat berupa buku teks fisik maupun e-book (aplikasi Kindle Google Play Store atau Apple Apps Store). Adapun yang sering saya pakai misalnya:

Perlu saya informasikan apabila Anda membeli e-book atau bentuk fisik buku tersebut lewat tautan atau pencarian di laman ini, maka Caiherang akan mendapat komisi dari pembelian tersebut. Dana yang diperoleh akan dipakai untuk pemeliharaan rutin seperti server, plug-in, design software, dan keperluan lainnya baik untu keperluan rutin maupun perbaikan dari website Caiherang ini.

Kesimpulan

Sebagian besar atau hampir semua keadaan penyakit hati yang menahun berakhir dengan sirosis. Patogenesis sirosis hati pada dasarnnya disebabkan aktivasi sel stelata oleh berbagai macam pernyakit hati yang bersifat kronis tersebut. Jika sudah sirosis, dapat berakibat berbagai macam komplikasi dan peningkatan kematian dan kecacatan. Pencegahan dan penanganan awal khususnya kesadaran akan vaksinasi hepatitis B serta gaya hidup sehat menjadi penting untuk menghindari dampak berat dari penyakit hati tahap akhir ini. Untuk penanganan sirosis hati dapat dipelajari pada artikel ini: Tatalaksana Sirosis Hati. Selain artikel ini, penjelasan mengenai patogenesis sirosis hati atau patofisiologi sirosis hati dapat disimak di video di bawah ini:

Sumber

  1. Elpek GÖ. Cellular and molecular mechanisms in the pathogenesis of liver fibrosis: An update. World J Gastroenterol. 2014;20(23):7260–76.
  2. Ferrell L. Liver pathology: cirrhosis, hepatitis, and primary liver tumors. Update and diagnostic problems. Mod Pathol. 2000 Jun;13(6):679–704.
  3. Garcia-Tsao G. Cirrhosis and its sequelae. In: Goldman L, Schafer AI, Arend WP, Armitage JO, Clemmons DR, Drazen JM, et al., editors. Goldman’s Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia: Elsevier; 2012. p. 999–1006.
  4. Jung YK, Yim HJ. Reversal of liver cirrhosis: Current evidence and expectations. Korean J Intern Med. 2017;32(2):213–28.
  5. Schuppan D, Afdhal NH. Liver cirrhosis. Lancet. 2008 Mar;371(9615):838–51.
  6. Shenoda B, Boselli J. Vascular syndromes in liver cirrhosis. Clin J Gastroenterol. 2019 Apr 12;0(0):0.
  7. Theise ND. Liver and Gallbladder. In: Kumar V, Abbas AK, Aster JC, editors. Robbins and Cotran pathologic basis of disease. 9th ed. Philadelphia: Elsevier; 2015. p. 821–81.
  8. Zhou WC, Zhang QB, Qiao L. Pathogenesis of liver cirrhosis. World J Gastroenterol. 2014;20(23):7312–24.

Comments 2

    1. Post
      Author

Tinggalkan Balasan