Penghitungan Volume Cairan Dekstrosa untuk Hipoglikemia

Pada kondisi hipoglikemia berat atau lanjut maka diperlukan pemberian glukosa intravena berupa cairan dekstrosa. Cairan dekstrosa yang diberikan setara dengan 20-50 gram dekstrosa. Adapun besaran volume yang dibutuhkan tentu disesuaikan dengan cairan dekstrosa yang tersedia. Untuk memudahkan, dapat menggunakan cara penghitungan di bawah ini:

Adapun protokol penanganan kasus hipoglikemia berat atau lanjut adalah sebagai berikut:

  • Glukosa secara intravena sebanyak 25-50 gram dekstrosa (misal 1 – 2 flakon D40 atau dekstrosa 40%) diberikan secara bolus pelan. Selain itu dapat pula disertai dengan pemberian infus D5 atau D10, misalkan 500 mL tiap 8 atau 12 jam. Pemberian ini diberikan dengan protokol sebagai berikut:
    • Setelah diberikan pertama diobservasi pasca pemberian yaitu perbaikan klinis dan cek ulang glukosa 1 jam pasca pemberian
    • Apabila satu jam pasca pemberian glukosa darah < 100 mg/dL maka dapat diberikan ulang pemberian bolus glukosa seperti di atas.
    • Apabila kadar glukosa 100 — 200 mg/dL, maka tidak perlu diberikan lagi bolus namun infus D5 atau D10 dilanjutkan.
    • Apabila kadar glukosa tiap jam dalam tiga kali pemeriksaan berturut-turut 100 — 200 mg/dL maka pemantauan dapat dilakukan tiap 2 jam.
    • Apabila dalam obserasi 2 jam sekali tiga kali pemeriksaan berturut-turut kadar glukosa 100 — 200 mg/dL maka pemantauan dapat dilakukan tiap 4 jam, kemudian setelahnya observasi secara KGDH.
    • Apabila kadar glukosa darah > 200 mg/dL maka pemberian cairan infus D5 atau D10 dighentikan.
    • Perlu diingat bahwa observasi berkala ini dilakukan apabila ditenggarai penyebab yang bersifat panjang. Misalnya beberapa jenis obat glibenklamid yang memberikan efek obat sampai 72 jam. Namun apabila penyebabnya singkat seperti insulin prandial, maka observasi tidak perlu dilakukan dalam jangka waktu lama.
    • Jika diperlukan, dalam kondisi hipoglikemia yang berat dan tidak dapat diperbaiki dengan bolus D40, dapat diberikan infus D40 misal mulai 5 — 10 mL D40 per jam dan dititrasi sampai memenuhi target kadar glukosa.
  • Selain itu dapat pula diberikan glukagon 0,5 – 1 mg IM atau SC
  • Dalam kondisi insufisiensi adrenal, suntikan hidrokortison dapat dipertimbangkan
  • Pada anak-anak dapat diberikan suntikan growth hormone.Jika masih gagal diaxozide atau streptozotocin diberikan dengan bekerja menghambat kerja sel beta. Diaxozide efektif menekan sekresi insulin oleh tumor
  • Tindakan bedah untuk penyebab hipoglikemia akibat insulinoma atau non islet tumor hypoglycemia (NICTH)

Adapun untuk pembahasan mengenai hipoglikemia ini dapat disimak di tautan ini.

Referensi

  1. Cryer PE, Axelrod L, Grossman AB, Heller SR, Montori VM, Seaquist ER, et al. Evaluation and management of adult hypoglycemic disorders: An endocrine society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2009;94(3):709–28.
  2. Iqbal A, Heller S. Managing hypoglycaemia. Best Pract Res Clin Endocrinol Metab. 2016;30(3):413–30.
  3. Manaf A. Hipoglikemia: Pendekatan klinis dan penatalaksanaan. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2014. p. 2355–8.
  4. Umpierrez G, Korytkowski M. Diabetic emergencies-ketoacidosis, hyperglycaemic hyperosmolar state and hypoglycaemia. Nat Rev Endocrinol. 2016;12(4):222–32.