Tes ANA pada Penyakit Lupus dan Autoimun Lainnya

Cecep Suryani Sobur Alergi-Imunologi, Kedokteran, Rheumatologi 4 Comments

Tes ANA atau antinuclear antibody merupakan salah satu pemeriksaan yang sering dipakai untuk menunjang diagnosis penyakit lupus atau SLE (systemic lupus erythematosus). Terkadang sering kali pasien datang membawa hasil pemeriksaan ANA yang positif. Bagaimana interpretasinya? Apakah hasil ANA positif berarti menderita penyakit lupus? Mari kita coba jawab pertanyaan tersebut dengan memulai dari pengertian tes ANA.

Definisi Tes ANA

Tes ANA adalah pemeriksaan yang ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap komponen dari sel, bisa protein atau komponen asam nukelat (dsDNA, RNA). Antibodi yang diperiksa tidak hanya satu melainkan dapat mendeteksi berbagai macam antobodi. Adapun metode yang dipakai ada dua macam yaitu dengan indirect immunofluorescence atau ANA IF dan enzyme-linked immunosorbent assay atau ELISA.

Perbandingan metode tes ANA immunofluoresensi dengan ELISA
Perbandingan metode tes ANA immunofluoresensi dengan ELISA

Metode Indirect Immunofluorescence (ANA IF)

Metode ini menggunakan cara dengan pada slide atau kaca pemeriksaan ditaruh sel mamalia (Hep-2 cell) yang dicampur dengan serum dari darah pasien atau subjek yang diperiksa. Campuran tersebut kemudian diinkubasi dengan menambah fluorochrome, suatu protein antibodi konjugasi terhadap IgG manusia. Fluorochrome ini adalah zat yang akan berpendar melalui proses fluoresensi karena mengandung zat fluorescin seperti fluorescein isothiocyanate (FITC).

Jika Anda memegang telepon seluler, maka jenis layar yaitu AMOLED memiliki prinsip kerja yang mirip dengan fluorescin. Dari hasil inkubasi ini kemudian dilihat dimikroskop dan dilihat pola sebaran warna fluorescin dan tempatnya baik di sitoplasma maupun di inti sel. Metode pemeriksaan ANA-IF dengan sel Hep-2 merupakan pemeriksaan baku emas untuk tes screening dari ANA. Di bawah ini adalah gambar metode cara pemeriksaan ANA-IF:

Gambar metode pemeriksaan ANA-IF
Gambar metode pemeriksaan ANA-IF dan contoh gambaran pola yang akan tampak di bawah mikroskop

Parameter yang Dinilai pada Tes ANA-IF

Yang dinilai pada ANA-IF adalah pola sebaran antibodi serta titer antibodi. Terdapat beberpa macam pola yaitu:

  • Pola homogen, dimana antibodi tersebar secara homogen di dalam sel. Penyakit yang berhubungan dengan pola ini adalah SLE, drug-induced lupus, dan juvenile idiopathic arthritis.
Gambaran pola homogen
Gambaran pola homogen tes ANA-IF. Tanda panah oranye menandakan sel sedang bermitosis.
  • Pola speckled inti atau nuklear, terdapat kumpulan seperti bercak, terutama di dalam inti. Terbagi lagi menjadi beberapa jenis:
    • Nuclear dense fine speckled, distribusi menyeluruh di inti sel. Pola ini berkaitan dengan antigen DFS70/LEDGF, dimana jarang pada sindrom Sjogren, biasa terdapat pada sklerosis sistemik dan SLE. Jika ditemukan secara terisolasi (tanpa gejala), biasanya tidak berkaitan dengan penyakit autoimun dan banyak terdapat hasil positif pada individu normal
    • Nuclear fine speckled, berupa bercak kecil merata di nukleoplasma. Antigen yang berkaitan dengan pola ini adalah SS-A/Ro, SS-B/La, Mi-2, TIF1γ, TIF1β, dan Ku. Adapun penyakit yang berkaitan adalah sindrom SJogren, SLE, dan dermatomyositis.
    • Speckled kasar berupa bercak kasar dan besar di seluruh nuklepplasma. Antigen yang berkaitan adalah hnRNP, U1RNP, Sm, dan RNA polymerase III Adapun penyakit yang biasanya berhubungan adalah mixed connective tissue disease (MCTD), SLE, dan sklerosis sistemik.
Pola dense fine speckled
Dense fine speckled pattern. Tanda panah oranye memperlihatkan sel yang bermitosis, panah putih dalam keadaan istirahat.
Pola speckled halus
Pola speckled halus. Tanda panah oranye memperlihatkan sel yang bermitosis, panah putih dalam keadaan istirahat.
Pola speckled kasar ANA-IF
Pola speckled kasar. Tanda panah oranye memperlihatkan sel yang bermitosis, panah putih dalam keadaan istirahat.
  • Pola sentromer, berkaitan dengan anti-CENP A, B, dan C, biasanya antibodi terhadap antigen ini berkaitan dengan limited cutaneous systemic sclerosis dan primary biliary cirrhosis (PBC).
Gambaran pola sentromer tes ANA-IF
Gambaran pola sentromer tes ANA-IF
  • Pola nukleolar, dimana pola kecerahan terfokus pada komponen anak inti atau nukleolus, juga terbagi menjadi beberapa pola:
    • Pola nukleolar homogen, berkaitan dengan PM/Scl-75, PM/Scl-100, Th/To, B23/nucleophosmin, nucleolin, dan No55/SC65. Penyakit yang berkaitan adalah sistemik sklerosis, dan overlap sistemik sklerosis dengan polimiositis (SSc/PM overlap)
    • Clumpy nucleolar, berkaitan dengan U3-snoRNP/fibrillarin dan terdapat pada penyakit sistemik sklerosis.
    • Punctate nucleolar, dimana terdapat titik-titik halus merata di anak inti atau nukleolus. Berkaitan dengan antigen RNA polymerase I dan hUBF/NOR-90, serta biasanya terdapat pada penyakit sistemik sklerosis (SSc) dan sindrom Sjogren.
Pola nucleolar ANA-IF
Pola nukleolar. Tanda panah oranye memperlihatkan sel yang bermitosis, panah putih dalam keadaan istirahat.
  • Pola nuklear dot, yaitu terdapat titik atau dots pada inti. Terdapat dua jenis pola
    • Multiple nuclear dots, dimana terdapat 6-20 titik di inti, berikaitan dengan antigen Sp-100, PML proteins, dan MJ/NXP-2. Penyakit autoimun yang biasa berhubungan adalah PBC, SARD (systemic autoimmune rheumatic diseases), dan dermatomyositis.
    • Few nuclear dots, terdapat 1-6 titik di inti, berkaitan dengan antigen p80-coilin dan SMN serta berhubungan dengan penyakit sindrom Sjogren, SLE, sistemik sklerosis, polimiositis, dan individu sehat yang asimtomatik
Pola nuclear dot ANA-IF
Pola nulear dot. Tanda panah oranye memperlihatkan sel yang bermitosis, panah putih dalam keadaan istirahat.
  • Pola rim, atau kecerahan berfokus di membran atau batas inti dengan plasma. Terdapat beberapa pola yaitu
    • Smooth nuclear envelope, dimana pada membran inti tergambar batas tipis yang halus. Berkaitan dengan protein inti lamins A, B, C, atau lamin-associated proteins. Berhubungan dengan penyakit SLE, sindrom Sjogren, dan artritis seronegatif.
    • Punctate nuclear envelope, dimana pola titik di membran inti. Berkaitan dengan protein nuclear pore complex proteins (misalnya gp210) dan bisa ada pada penyakit PBC
  • PCNA like, dimana terdapat bercak atau speckled di nukleoplasma. Berhubungan dengan protein PCNA dan ada pada penyakit SLE.
  • CENP-F, dimana terdapat pola speckled pada inti dengan kecerahan yang bervariaasi dengan kecerahan paling cerah pada fase G1. Berkaitan dengan protein CENP-F dan berhubungan dengan penyakit kanker.

Tes ANA Metode ELISA (ANA Profile)

Metode yang kedua dari tes ANA adalah metode ELISA atau ANA profile. Pabrikan kit pemeriksaan menyediakan plat yang berisi barisan “sumur” yang berisi antigen. Serum pasien kemudian dimasukan ke dalam sumur-sumur tersebut diikuti dengan inkubasi oleh reagen. Antibodi yang terikat kemudian akan dihitung secara kuantitatif oleh kolorimeter. Untuk contoh hasil pemeriksaan ANA dengan metode ELISA dapat dilihat di gambar di bawah ini:

Contoh pemeriksaan ANA profile dengan metode ELISA
Contoh pemeriksaan ANA dengan metode ELISA

Pada gambar di atas, tampak bahwa hasil pemeriksaan positif lemah (+) atau borderline untuk antibodi anti PM-Scl100. Untuk interpretasinya sama dengan tes ANA-IF. Namun, dikarenakan positif lemah, maka belum tentu dapat disimpulkan penderita mengidap suatu penyakit autoimun.

Perbandingan Metode ANA-IF dengan ELISA

Pada dasarnya metode ANA-IF sama dengan metode ELISA. Bedanya adalah bahwa pada tes ELISA, antigen sudah dipisahkan dan interpretasinya lebih mudah untuk dibaca. Metode ANA-IF lebih membutuhkan keterampilan dan pengalaman pembaca hasil tes untuk dapat menginterpretasikan antigen apa yang positif pada serum yang diperiksa. Di sisi lain, tes ANA ELISA lebih mahal. Adapun perbandingan lain dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

ANA-IFELISA
WaktuTinggiRendah
Pelatihan laboranEkstensifMudah
PengawasanTinggi Sangat tinggi
SensitivitasTinggi Sedikit lebih rendah
SpesivisitasRendahRendah
Besaran informasi dari pemeriksaanModeratRendah

Pola Hasil Tes ANA pada Beberapa Penyakit Autoimun

Selain penyakit lupus, terdapat beberapa kondisi penyakit autoimun lain yang berkaitan dengan tes ANA positif, yaitu sebagai berikut:

Penyakit autoimunFrekuensi hasil tes ANA positif
Lupus/SLE95%
Skleroderma95%
Mixed connective tissue disease (MCTD)95%
Sindrom Sjogren70%
Tiroiditis45%
Arthritis rheumatoid40%
HIV15%
Hepatitis C kronik10%

Adapun tes imunologi lain yang dipakai dalam membantu diagnosis penyakit autoimun dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

SpesivisitasFrekuensiSpesivisitas penyakitTes dengan
SLE
dsDNA50-80%TinggiELISA
Sm15%TinggiELISA
Ribosomal P10%TinggiELISA
Skleroderma
Topo I15%TinggiELISA
Centromere25%SedangIF
RNA polimerase III (RNAP III)20%TinggiELISA
PM/DM
Jo-1 (his-tRNA)20%TinggiELISA
RA
CCP70%SedangELISA
RF70%RendahELISA
Sindrom Sjogren
Ro/SS-A70%RendahELISA
La/SS-B40%SedangELISA
MCTD (mixed connective tissue disease)
U1RNP100%RendahELISA

Interpretasi Tes ANA

Tes ANA semata tidak dapat dijadikan patokan untuk mendiagnosis seseorang menderita penyakit autoimun atau tidak. Harus memperhatikan kondisi lain baik keluhan pasien maupun kelainan-kelainan yang didapat dari pemeriksaan fisis maupun penunjang lain. Harus diperhatikan pula kadar atau titer dari tes ANA. Semakin kuat titer tentu semakin menguatkan kemungkinan adanya penyakit autoimun. Perlu diingatkan pula bahwa ada sekelompok orang sehat yang memiliki tes ANA yang positif.

Tes ANA Positif pada Individu yang Sehat

Dari data penelitian, ternyata sekitar 25% populasi sehat memiliki ANA positif dengan tier 1:40 atau lebih. Sekitar 5% populasi sehat juga memiliki ANA positif dengan titer setidaknya 1:160. Dari populasi ini, ternyata sebagian besar adalah perempuan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dalam derajat tertentu terdapat proses autoreaktivitas namun masih dalam keadaan sehat. Memang hal ini mengartikan bahwa tidak semua individu dengan ANA positif memiliki penyakit lupus atau autoimun lainnya.

Tetapi, walaupun dalam keadaan sehat, ada sebagian orang sehat dengan hasil ANA positif ternyata kemudian hari menjadi lupus. Memang porsinya tidak besar dan penyebab pasti serta hal yang mencetuskan belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor yang berhubungan dengan potensi pencetus penyakit autoimun adalah estrogen, rokok, obat-obatan, sinar ultraviolet, dan infeksi virus.

FAQs Tentang Tes ANA

Apakah itu tes ANA?

Tes ANA adalah pemeriksaan yang ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap komponen dari sel, bisa protein atau komponen asam nukelat (dsDNA, RNA)

Bagaimana tes ANA dilakukan?

Tes ANA menggunakan sampel serum darah. Terdapat dua metode pemeriksaan serum tersebut yaitu ANA-IF dan metode ELISA atau ANA profile

Apa makna titer pada tes ANA-IF?

Titer pada tes ANA-IF adalah dilusi atau pengenceran. Pengenceran yang dimaksud adalah pengenceran terbesar dimana hasil tes masih positif. Misalkan pengenceran 1:1000 berarti setelah diencerkan sampai 1/1000 tes masih positif. Semakin besar pengenceran, berarti hasil positif semakin kuat. Tingkat pengenceran yang ada bisa 1:40, 1:80, 1:160, 1:320, dst

Apakah saya dengan titer 1:160 saya berarti menderita penyakit autoimun?

Diagnosis penyakit autoimun tidak bisa dilakukan hanya dengan pemeriksaan ANA saja. Harus dicocokan dengan gejala dan pemeriksaan lain. Pada kenyataannya, 5% dari populasi sehat apabila diperiksa hasil tes ANA positif dengan titer 1:160.

Apakah arti pola pada tes ANA-IF?

Pola pada ANA-IF menunjukan jenis antibodi khusus terhadap protein dalam inti sel. Contohnya speckled kasar berkaitan dengan antigen hnRNP, U1RNP, Sm, dan RNA polymerase III. Antigen ini berhubungan penyakit autoimun mixed connective tissue disease (MCTD), SLE/lupus, dan sklerosis sistemik.

Bagaimana interpretasi ANA profile?

Pada dasarnya jangan menjadikan tes ANA sebagai satu-satunya petunjuk diagnosis untuk penyakit autoimun. Sama dengan tes ANA-IF, ada orang sehat atau penyakit non autoimun dengan tes positif. Yang perlu diperhatikan adalah kekuatan hasil tes (borderline, positif +, positif ++, atau positif +++) dan antigen jenis apa yang positif. Misalkan dari pemeriksaan dsDNA positif +++. Apabila disertai temuan gejala berupa malar rash, ada radang sendi, dan rambut rontok, maka hasil tersebut cukup menjadi dasar untuk diagnosis penyakit lupus.

Buku Referensi Kedokteran

Berikut ini adalah beberapa buku teks yang dapat dipilih sebagai bahan pembelajaran khususnya di bidang ilmu dasar kedokteran dan penyakit dalam. Format dapat berupa buku teks fisik maupun e-book (aplikasi Kindle Google Play Store atau Apple Apps Store). Adapun yang sering saya pakai misalnya:

Perlu saya informasikan apabila Anda membeli e-book atau bentuk fisik buku tersebut lewat tautan atau pencarian di laman ini, maka Caiherang akan mendapat komisi dari pembelian tersebut. Dana yang diperoleh akan dipakai untuk pemeliharaan rutin seperti server, plug-in, design software, dan keperluan lainnya baik untu keperluan rutin maupun perbaikan dari website Caiherang ini.

Kesimpulan

Tes ANA menggambarkan adanya autoantibodi yang membantu dalam menegakan diagnosis penyakit autoimun seperti SLE. Namun, hanya keberadaan autoantibodi saja (ANA tes positif) tidak berarti terdapat penyakit lupus. Hal ini petunjuk bahwa autireaktivitas pada orang sehat sebenarnya ada namun perlu ada suatu pencetus untuk mendorongnya menjadi suatu penyakit. Paparan beberapa zat lingkungan, faktor genetik, dan hormonal menjadi faktor lain yang bisa mencetuskan penyakit auotimun pada individu sehat yang sudah terdapat autoreaktivitas pada dirinya. Selain artikel ini, penjelasan mengenai tes ANA juga dapat disimak pada video di bawah ini:

Comments 4

    1. Post
      Author

      Tinggal sudah berapa lama sama titer ANA berapa. Antara lupus atau artritis reumatoid. Sepertinya dokter yang memeriksa sudah bisa menyimpulkan. Kalau saya sih hanya bisa mengira-ngira karena tidak bisa memeriksa langsung.

  1. Dok saya baru2 ini d vonis ANa posifit dan RNp/SM juga positif..
    Ni apa memang berkaitan dgn penyakit lupus SLE?

    1. Post
      Author

Tinggalkan Balasan