Aritmia pada Kehamilan

Cecep Suryani Sobur Kardiologi, Kedokteran Leave a Comment

Aritmia pada kehamilan berupa takiaritmia terutama atrial fibrilasi (AF) dapat muncul pertama kali saat periode kehamilan. AF pada kehamilan akan lebih sering muncul pada ibu seiring dengan pertambahan usia atau ibu dengan kelainan jantung kongenital. Bentuk aritmia yang paling banyak ditemukan pada kehamilan berupa AF (27/100.000) dan paroksismal SVT (PSVT) (22-24/100.000). Adapun bentuk lain dari aritmia seperti VT, VF, atau bradiaritmia lebih jarang ditemukan.

Risiko Ibu dengan Aritmia pada Kehamilan

Atrial fibrilasi (AF) dapat meningkatkan mortalitas ibu hamil. AF dengan respon ventrikel yang cepat dapat menyebabkan gangguan hemodinamik baik bagi ibu maupun janin. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah mengobati penyebab atau penyakit yang melatarbelakangi. Pada ibu dengan riwayat VT atau SVT simtomatik, disarankan untuk melakukan ablasi sebelum hamil.

Kehamilan dapat meningkatkan kejadian sudden cardiac death (SCD) sehingga saat konseling kehamilan, perlu diperhatikan adakah kemungkinan gangguan elektrofisiologi jantung bawaan. Pada wanita dengan long QT syndrome (LQTS) berisiko mengalami kejadian kardiak yang signifikan setelah melahirkan. Jika terdapat VT onset baru, perlu dicari kemungkinan adanya kelainan struktural pada jantung karena bisa meningkatkan kejadian SCD. Apabila adanya bradiaritmia atau gangguan konduksi lain tanpa adanya gangguan struktural jantung biasanya memiliki prognosis atau luaran yang baik.

Risiko Obstetrik dan Janin pada Ibu Hamil dengan Aritmia

Aritmia pada kehamilan berupa paroksismal SVT dapat menyebabkan luaran persalinan ibu dan janin yang lebih buruk dengan kemungkinan peningkatan terjadinya persalinan caesar, BBLR, persalinan pre-term, stres janin, dan kelainan janin. Ibu dengan kelainan jantung kongenital banyak yang meninggal saat persalinan dengan artimia menjadi penyebab kematian terbanyak.

Supraventricular Tachycardia (SVT) pada Kehamilan

Salah satu jenis aritmia pada kehamilan yang terbanyak adalah SVT. Dalam keadaan akut, pemberian adenosine merupakan pilihan yang utama jika berhadapan dengan PSVT. Adapun untuk pencegahan lanjutan adalah beta blocker (kecuali atenolol) atau verapamil terkecuali untuk sindrom WPW.

Atrial takiakrdia (AT) fokal berhubungan dengan resistensi terhadap obat dan kardiomiopati yang diinduksi takikardia. Untuk AT fokal, adenosine membantu diagnosis dan bisa menerminasi 30% dari AT fokal. Untuk jangka panjang, direkomendasikan pemberian obat yang memblok AV node. Jika gagal, dapat diberikan flecainide, propafenone (tanpa keadaan iskemik jantung), atau sotalol.

Atrial Fibrilasi (AF) dan Flutter pada Kehamilan

Dalam keadaan dimana terjadi ketidakstabilan hemodinamik akibat AF, maka direkomendasikan untuk dilakukan kardioversi elektrikal. Dalam keadaan AF atau flutter dengan hemodinamik stabil dan tidak adanya gangguan struktural dari jantung, terminasi AF atau flutter dapat menggunakan ibutilide atau flecainide IV. Kardioversi secara umum harus didahului pemberian antikoagulan dan penggunaan beta blocker disarankan untuk mengontrol laju jantung.

Episode atrial flutter dalam keadaan adanya penyakit jantung kongenital biasanya tidak ditoleransi sehingga harus diberikan kardioversi elektrikal. Jika terdapat gangguan fungsi ventrikel sistemik (ventrikel kiri pada keadaan normal), maka penggunaan beta-blocker, antiaritmia kelas I, antiaritmia kelas I, dan sotalol harus diberikan dengan hati-hati.

Pemberian antikoagulan diberikan sama dengan pasien yang tidak hamil berdasarkan risiko stroke. Pemberian antokoagulan oral selain VKA tidak dibenarkan saat kehamilan.

Untuk lebih jelas mengenai AF dan obat antiaritmia dapat dilihat pada artikel di bawah ini:

Ventricular Tachycardia (VT) pada Kehamilan

Dalam keadaan kehamilan, penting untuk dilakukan telusur kemungkinan adanya gangguang aritmogenik yang bersifat keturunan. Jika terdapat onset VT dalam 6 minggu terakhir kehamilan, perlu dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya PPCM. Untuk PPCM, dapat dibaca pada artikel di bawah ini:

Pemberian terapi untuk mencegah VT sangat tergantung dari ada atau tidaknya penyakit struktural jantung serta fungsi dari ventrikel kiri. Takikardia traktus RV outflow diopatik adalah bentuk VT yang paling banyak ditemukan saat kehamilan. Beta blocker non selektif harus diteruskan sepanjang kehamilan sampai setidaknya 40 minggu setelah persalinan pada pasien dengan LQTS kongenital atau dengan catecholaminergic polymorphic VT. Pengecualian pada pasien LQTS tanpa episode sinkope atau torsades de pointes sebelumnya.

Bradiaritmia pada Kehamilan

Dalam keadaan dimana dicurigai adanya disfungsi sinus node, biasanya berkaitan dengan supine hypotensive syndrome of pregnancy. Bradikarida yang simtomatik ditata laksana dengan perubahan posisi ibu ke posisi lateral dekubitus kiri. Untuk gejala yang persisten, mungkin diperlukan pemasangan pacu jantung.

Pada ibu hamil dengan isolated congenital complete heart block biasanya memiliki prognosis yang baik saat hamil terutama bila irama escape berupa kompleks QRS yang sempit. Pemasangan pacu jantung temporer biasanya tidak diperlukan pada pasien yang stabil namun dilakukan apabila ada risiko bradikarida dan sinkope.

Kardioversi Elektrik untuk Aritmia pada Kehamilan

Kardioversi aman dilakukan untuk semua fase kehamilan dan tidak mempengaruhi aliran darah janin. Jika dilakukan kardioversi, perlu dilakukan monitoring laju jantung janin setelah dilakukan kardioversi elektrikal

Ablasi Kateter untuk Aritmia pada Kehamilan

Ablasi kateter harus ditunda sampai usia kehamilan trimester kedua dan dilakukan oleh oeprator yang berpengalaman. Tindakan juga dilakukan dengan mapping elektroanatomik dan sistem navigasi kateter non fluoroskopik. Ablasi kateter dilakukan pada AVNRT rekuren yang refraketr obat, AVRT, focal AT, cavotricuspid isthmus-dependent atrial flutter, dan beberapa VT jinak yang berasal dari sisi kanan untuk mengurangi paparan obat yang berpotensi mengganggu kehamilan namun tidak mempunyai epran pada takikardia makroreentran atau AF.

Implantable Cardioverter-Defibrillator (ICD) dan Alat Pacu Jantung untuk Aritmia pada Kehamilan

ICD dianjurkan dipasang sebelum kehamilan pada kelompok pasien yang berisiko tinggi mengalami SCD. ICD pada kehamilan tidak meningkatkan risiko komplikasi yang berkaitan dengan ICD. Jika ICD dipasang saat hamil, disarankan one chamber terutama apabila usia janin di bawah 8 minggu.

Rekomendasi Suirvailans dan Terapi Saat Persalinan pada Ibu Hamil dengan Aritmia

Risiko aritmia dengan kemungkinan gangguan hemodinamik saat persalinan Level survailansKelasLevel
RendahPSVT, AF, VT idiopatik, LQTS risiko rendah, sindrom WPW1IC
SedangUnstable SVT, VT, ibu dengan ICD, VT dan penyakit jantung struktural, Brugada syndrome; moderate risk: LQTS, catecholaminergic polymorphic VT2IC
Tinggi atau mengancam nyawaUnstable VT pada structural heart disease/congenital heart disease, unstable VT/TdP pada high-risk LQTS, short QT syndrome, high-risk catecholaminergic polymorphic VT3IC
Deskripsi Level survailans
Low 1Medium 2High 3
Konsultasi kardiologisx
Konsultasi tim multidisiplin termasuk aritmologis di pusat layanan terspesialisasixx
Lokasi dan cara persalinan sesuai saran dari dokter kebidananxx
Rekomendasi persalinan caesarx
Pemantauan irama jantung (telemetri, monitor irama jantung eksternal(x)x
IV linexx
Arterial linex
Persiapan untuk adenosine IVx
Persiapan beta blocker IVxx
Persiapan obat antiaritmia terpilihx
Cardioverter defibrilator eksternal in sitexx
Persalinan di ruang bedah toraksx
Persiapan transfer ke cardiac intensive care unit post partum bila diperlukanx
  • Tatalaksana aritmia pada kehamilan dalam bentuk SVT dan AF akut
    • Manuver vagal dan jika gagal, adenosine untuk konversi PSVT (IC)
    • Kardioversi elektrikal segera apabila takikardia dengan hemodinamik tidak stabil atau AF dengan pre-tereksitasi (IC)
    • Beta-1 selective blocker dapat diberikan untuk konversi PSVT akut (IIaC)
    • Ibutilide atau flecainide dipertimbangkan untuk terminasi AF atau flutter pada apsien yang stabil dan struktur jantung yang normal (IIbC)
  • Manajemen jangka panjang dari SVT dan AF
    • Beta-1 selective blocker atau verapamil direkomendasikan untuk mencegah SVT pada pasien tanpa pre-eksitasi saat EKG istirahat (IC)
    • Flecainide atau propafenone direkomendasikan untuk SVT pasien dengan sindrom WPW (IC)
    • beta-selective blocker direkomendasikan untuk mengontrol laju jantung dari AT atau AF (IC)
    • Flecainide, propafenone, atau sotalol dapat dipertimbangkan untuk mencegah SVT, AT, dan AF apabila obat-obatan yang memblok AV nodal gagal (IIaC)
    • Digoksin dan verapamil harus dipertimbangkan untuk mengontrol laju AT atau AF bila beta blocker gagal (IIaC)
    • Apabila kasus refrakter obat dan SVT yang tidak bisa ditoelransi, maka dipertimbangkan ablasi kateter dengan sistem elektroanatomik dan dilakukan di pusat yang berpengalaman (IIaC)
  • Manajemen akut VT
    • Kardioversi elektrikal segera baik pada sustained VT stabil maupun tidak stabil (IC)
    • Untuk konversi akut dari sustained, hemodinamik stabil, VT monomorik, dipertimbangkan pemberian beta blocker, sotalol, flecainidem procainamide, atau overdrive ventricular pacing (IIaC)
  • Manajemen jangka panjang VT
    • ICD (disarankan single chamber) direkomendasikan sebelum hamil jika ada indikasi. Jika indikasi muncul atau terjadi di tengah kehamilan, implantasi ICD dilakukan dengan guidence echocardiography atau mapping, terutama jika usia janin dibawah 8 minggu (IC)
    • Beta blocker direkomendasikan saat kehamilan dan post partum pada psien dengan LQTS atau catecholaminergic polymorphic VT (IC)
    • Beta blocker atau verapamil direkomendasikan untuk mencegah idiopathic sustained VT jika berhubungan dengan gangguan hemodinamik yang berat (IC)
    • Pada pencegahan idiopathic sustained VT, apabila obat lain gagal, direkomendasikan pemberian sotalol atau flecainide (IIaC)
    • Ablasi kateter dengan sistem mapping elektroanatomik direkomendasikan di tempat yang berpengalaman pada psien VT yang refrekter obat atau tidak dapat ditoleransi oleh pasien jika tidak ada alternatif lainnya (IIbC)

Buku Referensi Kedokteran

Berikut ini adalah beberapa buku teks yang dapat dipilih sebagai bahan pembelajaran khususnya di bidang ilmu dasar kedokteran dan penyakit dalam. Format dapat berupa buku teks fisik maupun e-book (aplikasi Kindle Google Play Store atau Apple Apps Store). Adapun yang sering saya pakai misalnya:

Perlu saya informasikan apabila Anda membeli e-book atau bentuk fisik buku tersebut lewat tautan atau pencarian di laman ini, maka Caiherang akan mendapat komisi dari pembelian tersebut. Dana yang diperoleh akan dipakai untuk pemeliharaan rutin seperti server, plug-in, design software, dan keperluan lainnya baik untu keperluan rutin maupun perbaikan dari website Caiherang ini.

Kesimpulan

Aritmia pada kehamilan dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas baik pada ibu maupun janin. Kebanyakan artimia ini berkaitan dengan usia dan muncul pertama kali saat kehamilan. Namun bisa terjadi ibu yang telah memiliki gangguan aitmia sebelumnya kemudian hamil. Menentukan diagnosis sebenarnya cukup mudah dengan melakukan EKG 12 sadapan. Mengidentifikasi jenis aritmia serta menghubungkannya dengan kemungkinan penyakit struktural jantung adalah langkah penting lanjutan untuk menentukan terapi dan pencegahan lanjutan.

Sumber

  1. Regitz-Zagrosek V, Roos-Hesselink JW, Bauersachs J, Blomström-Lundqvist C, Cífková R, De Bonis M, et al. 2018 ESC Guidelines for the management of cardiovascular diseases during pregnancy. Eur Heart J. 2018 Sep 7;39(34):3165–241.

Tinggalkan Balasan