Penggunaan Amiodarone untuk Atrial Fibrilasi (AF)

Cecep Suryani Sobur Kardiologi, Kedokteran Leave a Comment

Di Indonesia, amiodarone atau cordarone sering dipakai untuk segala macam gangguan aritmia mulai dari atrial fibrilasi, gangguan irama ventrikel, dan sebagainya. Obat ini memiliki cara kerja yang bisa mempengaruhi hampir semua tempat konduksi jantung. Dikarenakan mekanisme kerja tersebut, obat ini banyak dipakai karena mudah untuk menggunakannya. Akan tetapi, obat ini memiliki banyak sekali efek samping termasuk dapat menyebabkan aritmia torsades de pointes yang sangat berbahaya. Oleh sebab itu, memahami mekanisme dan bagaimana cara memakainya sangatlah penting.

Pada kasus atrial fibrilasi, amiodarone dapat dipakai untuk kardioversi ke irama sinus dan mempertahankan irama sinus selama mungkin. Selain itu, amiodarone juga dapat dipakai untuk mengendalikan laju jantung. Namun, obat ini bukanlah pilihan pertama, dipakai apabila lini pertama tidak berhasil atau tidak tersedia. Untuk mempelajari jenis-jenis obat antiaritmia dapat dibaca pada artikel: “Kelas Obat Anti Aritmia” sedangkan untuk atrial fibrilasi dapat dibaca di artikel: “Atrial Fibrilasi (AF)”.

Mekanisme Kerja Amiodarone

Amiodarone termasuk antiaritmia kelas III dimana dalam tubuh, obat ini diubah menjadi zat aktif desethylamiodarone. Mekanisme kerja amiodarone adalah dengan menghambat kanal ion natrium, kalium, dan kalisum. Obat ini juga mempunyai aktivitas sebagai alpha-blocker dan beta-blocker non kompetitif yang poten walaupun tidak memberikan efek inotropik negatif yang signifikan. Di saat keadaan laju jantung yang cepat, maka efek hambatan terhadap kanal natrium menjadi lebih signifikan. Walaupun demikian, kerja secara pasti amiodarone dalam keadaan atrial fibrilasi tidak diketahui secara pasti.

Mekanisme penghambatan kanal ini dapat menjelaskan efek fisiologis dari amiodarone. Pada atrial fibrilasi, efek yang paling jelas adalah saat dihambatnya kanal natrium, menyebabkan lambatnya repolarisasi, menyebabkan bertambahnya durasi aksi potensial dan jeda refrakter dari jaringan jantung. Efek pemanjangan masa refrakter ini tampak dari pemanjangan durasi segmetn QT. Selain itu, obat ini juga dapat mencegah remodeling elektrikal jaringan atrium secara eksperimental. Untuk pengaruh amiodarone pada saat AF dapat juga diperjelas pada bagan di bawah ini.

Pengaruh amiodarone pada atrial fibrilasi
Pengaruh amiodarone pada atrial fibrilasi

Bukti dan Manfaat Klinis Amiodarone

Sebetulnya penelitian menunjukan cordarone lebih baik dalam mempertahankan irama sinus dibandingkan antiaritmia lainnya. Tingkat kerjadian rekurensi AF pada obat ini hanya 35% dibandingkan 63% dengan propafenon, 60-63% dengan sotalol, dan 82% pada plasebo.

Dalam hal pemakaian, profil farmakologisnya harus dipahami. Obat ini memiliki sifat sangat lipofilik dengan volume distribusi 66 liter per kg berat badan. Hal ini menyebabkan obat banyak terdistribusi dalam lemak tubuh sehingga memiliki waktu onset kerja yang lambat (2-3 hari) dan waktu eliminasi yang lama (sampai 6 bulan).

Seperti disebutkan di atas, amiodarone dimetabolisme di hati menjadi zat aktif yaitu desethylamiodarone. Oleh sebab itu, obat ini tidak bisa diberikan pada pasien dengan gangguan hati. Eksresinya sedikit sekali di ginjal sehingga baik gangguan ginjal maupun dialisa tidak mempengaruhi kadar amiodarone dalam darah. Obat ini juga dapat melintas plasenta dan dikeluarkan bersama-sama dengan air susu ibu sehingga dihindari penggunaannya pada perempuan hamil dan menyusui.

Pada keadaan dimana terdapat kelainan struktural jantung atau gagal jantung kongestif, amiodarone merupakan pilihan yang pertama. Sebaliknya, dalam keadaan dimana gangguan struktural tidak ditemukan pada AF, penggunaannya menjadi pilihan terakhir. Selain itu, kebanyakan klinisi menghindari amiodarone pada pasien dengan usia muda karena khawatir akan efek samping penggunaannya dalam jangka panjang.

Dosis Amiodarone untuk Kardioversi AF

Seperti dalam panduan penanganan AF, sebelum diberikan obat kardioversi, maka pasien harus sudah mendapat antikoagulan dengan target INR 2-3 selama 3 minggu. Terapi amiodarone dimulai dengan pemberian loading dose sekitar 10 gram pada 1-2 minggu pertama. Dosis ini diberikan dalam beberapa dosis terbagi seperti 400 mg diberikan 2 kali sehari selama 2 minggu kemudian diikuti 400 mg per hari selama 2 minggu berikutnya. Pemberian dosis besar ini kadang menimbulkan intoleransi gastrointestinal sehingga dapat dibagi menjadi pemberian 3 kali per hari dengan dosis per kali minum yang dikurangi.

Pada saat pemberian loading dose, pemeriksaan EKG 12 sadapan harus dilakukan setidaknya sakali untuk mengevaluasi adanya QT prolongation (>550 msec) atau bradikardia. Pemanjangan durasi QT sering ditemukan dan akan membaik jika dilakukan pengurangan dosis.

Ketika loading dose sudah tercapai, pemberian obat rumatan atau maintenance adalah 200 mg sekali sehari. Selama pemberian, pemeriksaan zat aktif dalam darah tidak diperlukan.

Amiodarone dapat berinteraksi dengan obat lain karena mempengaruhi kerja hati. Obat yang sering ditemukan berinteraksi adalah warfarin dan digoksin. Digoksin sebaiknya dihentikan jika pasien menerima amiodarone atau dikurangi dosisnya 50%. Saat awal pemberian secara bersamaan, pemeriksaan INR harus dilakukan dengan ketat. Seringkali dosis warfarin harus dikurangi 25-50%.

Amiodarone untuk Kondisi AF Akut

Pada kondisi akut, amiodarone dapat dipakai baik sebagai kardioversi maupun untuk mengontrol laju jantung (rate control) terutama apabila terdapat kelainan struktural jantung. Dalam kondisi akut ini, harus diperhatikan bahwa terdapat kontraindikasi yaitu:

  • Syok kardiogenik
  • Disfungsi berat sinus-node dengan gambaran sinus bradikardia
  • Heart block derajat dua dan tiga
  • Bradikarida tanpa alat pacu jantung yang menyebabkan sinkop (bradikardia simtomatik)

Untuk kondisi dimana terjadi AF akut dengan adanya accessory pathway, pemberiannya adalah 150 mg IV dilanjutkan dengan infus 0,5-1 mg/menit. Hal ini adalah sementara sambil menunggu dilakukannya ablasi. Dosis ini juga dapat diberikan pada kondisi AF akut lain sebagai upaya terakhir apabila obat lain tidak berhasil mengontrol laju jantung.

Untuk kardioversi pada keadaan AF akut lainnya dapat diberikan dosis sebagai berikut:

Kardioversi: 5-7 mg/kg IV selama 30-60 menit kemudian diikuti dosis harian IV infus 1,2-1,8 gram per hari atau dengan dosis oral terbagi sampai total 10 gram.
ATAU
150 mg IV selama 10 menit kemudian 0,5-1 mg/menit
ATAU
800 mg PO per hari selama satu minggu, diikuti 600 mg PO per hari selama 1 minggu berikutnya, dan 400 mg PO per hari selama 4-6 minggu
Dosis rumatan adalah 200-400 mg PO per hari
Perhatian untuk pasien lanjut usia dosis inisial diberikan dengan batas bawah dosis dewasa. Pada keadaan gangguan hati, dianjurkan untuk tidak diberikan amiodarone apabila terjadi kenaikan enzim hati atau transaminase di atas 3 kali batas normal.
Sediaan oral (PO): 100, 200, 400 mg tablet.
Sediaan injeksi IV: 50 mg/mL, 150 mg/3 mL

Kontraindikasi dan Efek Samping

Amidoarone dikontraindiaksikan untuk pasien dengan gangguan konduksi berat dan disfungsi sinus-node yang berat (kecuali sudah dalam pacemaker). Penggunaan amiodarone juga harus diberikan secara hati-hati pada pasien dengan penyakit paru yang lanjut. Adapun efek samping yang timbul dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Efek SampingInsidensRekomendasi monitoringKeadaan khusus
KardiakPemeriksaan EKG baseline dan setidaknya 1 kali dalam loading dose, terutama jika ada gangguan konduksi, setelah itu 1 kali per tahunPengurangan dosis loading pada pasien lanjut usia dan penyakit konduksi sinoatrial atau atrioventrikuler; kurangi dosis atau stop amiodarone bila QT> 550 msec
Bradikardia5%
Prolong QTMayoritas pasien
Torsades de pointes<1%
Liver15%Transaminase baseline dan tiap 6 bulanHindari pada pasien dengan gangguan hati
TiroidPemeriksaan fungsi tiroid baseline dan setelah itu setiap 1 tahun sekaliHindari jika ada nodul tiroid non toksik, efek samping lebih besar jika ada penyakit tiroid autoimun
Hipertiroidisme3%
Hipotiroidisme20%
Paru<3%Fungsi paru baseline atau jika ada gejala; rontgen paru baseline dan tiap tahun setelahnyaHentikan amiodarone jika muncul gejala efek samping pada paru
Kulit25-75%RutinPenggunaan sunscreen
Neurologis3-30%RutinKurangi dosis
MataPemeriksaan saat baseline jika ada gangguan sebelumnya dan selanjutnya diperiksa bila diperlukanHindari penggunaan amiodarone bila sebelumnya ada neuritis optikum
Deposit kornea100%
Neuritis optikum<1%

Buku Referensi Kedokteran

Berikut ini adalah beberapa buku teks yang dapat dipilih sebagai bahan pembelajaran khususnya di bidang ilmu dasar kedokteran dan penyakit dalam. Format dapat berupa buku teks fisik maupun e-book (aplikasi Kindle Google Play Store atau Apple Apps Store). Adapun yang sering saya pakai misalnya:

Perlu saya informasikan apabila Anda membeli e-book atau bentuk fisik buku tersebut lewat tautan atau pencarian di laman ini, maka Caiherang akan mendapat komisi dari pembelian tersebut. Dana yang diperoleh akan dipakai untuk pemeliharaan rutin seperti server, plug-in, design software, dan keperluan lainnya baik untu keperluan rutin maupun perbaikan dari website Caiherang ini.

Kesimpulan

Amidoarone merupakan obat yang poten untuk digunakan dalam kasus atrial fibrilasi. Tetapi, penggunaannya harus digunakan secara tepat, pada populasi tertentu, dan diperhatikan kemungkinan adanya efek samping serta interaksi dengan obat lainnya.

Sumber

  1. American College of Cardiology (ACC), American Heart Association (AHA), and the European Society of Cardiology (ESC). ACC/AHA/ESC 2006 Guidelines for the Management of Patients with Atrial Fibrillation. Washington, DC: American College of Cardiology.
  2. Heart Rhythm Society. AF360 Pocket Guide: Practical Rate and Rhythm Management of Atrial Fibrillation. 2010, Washington, DC: Heart Rhythm Society.
  3. Zimetbaum P. Amiodarone for Atrial Fibrillation. N Engl J Med. 2007 Mar;356(9):935–41.

Tinggalkan Balasan