COVID-19 telah dinyatakan pandemi namun sampai perkembangan terakhir, belum ada terapi atau vaksin yang dapat digunakan untuk terapi penyakit ini. Namun, beberapa uji klinis sedang dilakukan untuk menguji beberapa kandidat atau calon terapi COVID-19. Salah satunya yang dianggap menjanjikan adalah remdesivir. Mari kita lihat obat apakah ini dan sekilas mengenai perkembangan uji klinis dari obat tersebut.
Daftar Isi
Struktur dan Mekanisme Kerja Remdesivir
Remdesivir merupakan analog nukleosida adenosine. Obat ini dikembangkan oleh Gilead. Data sebelumnya menunjukan kemampuan obat ini sebagai antivirus spektrum luas terhadap filoviruses, paramyxoviruses, pneumoviruses, dan coronavirus patogen.
Coronavirus yang dapat dihambat oleh obat ini termasuk SARS-CoV, MERS-CoV serta pada studi kultur jaringan aktif terhadap coronavirus endemik lain yang menginfeksi manusia yakni HCoV-OC43 dan HCoV-229E (Brown et al, 2019).

Adapun mekanisme kerja dari remdesivir sebagai analog nukleosida adalah dengan menghambat kerja RNA polimerase dari virus. Seperti kita ketahui bahwa salah satu fase replikasi dari virus adalah duplikasi genom virus oleh RNA polimerase. Dengan menghambat enzim ini maka perkembangbiakan virus dapat ditekan.

Remdesivir Menghambat Replikasi SARS-CoV dan MERS-CoV
Salah satu hal yang menyebabkan obat ini menjadi kandidat kuat terapi COVID-19 adalah bahwa obat ini ditemukan menghambat replikasi coronavirus lain yaitu SARS-CoV dan MERS-CoV. Hasil ini diperoleh dari penelitian infeksi coronavirus pada medium biakan jaringan dan model infeksi pada hewan (Martinez MA, 2020). Selain itu, obat ini juga menghambat coronavirus yang menginfeksi kelelawar.
Akan tetapi harus dipahami bahwa fenomena ini belum tentu terbukti pada manusia ataupun kasus COVID-19 sehingga penggunaannya harus menunggu hasil uji klinis terlebih dahulu.
Uji Klinis Remdesivir pada COVID-19
Dikarenakan data sebelumnya, maka remdesivir dijadikan salah satu obat yang saat ini sedang diuji coba dalam penanganan COVID-19. Uji klinis tersebut sedang berjalan dan perkembangannya dapat dilihat salah satunya di NCT04252664 dan NCT04257656.
Selain remdesivir, obat lain yang berpotensi untuk terapi COVID-19 adalah kloroquin. Bahkan, saat ini peneliti dari RRC melaporkan hasil interim yang menunjukan kemungkinan kloroquin dapat efektif dalam mengobati COVID-19 (Gao J, et al. 2020).
Kesimpulan
Remdesivir merupakan salah satu kandidat kuat sebagai terapi untuk COVID-19. Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa obat ini menghambat replikasi berbagai jenis coconavirus termasuk SARS-CoV dan MERS-CoV. Namun, pembuktian efektivitas remdesivir terhadap COVID-19 masih perlu menunggu data uji klinis yang saat ini sedang berjalan. Semoga hasilnya dapat positif sehingga kita memiliki terapi khusus yang ditujukan untuk menghambat penyebab COVID-19 yaitu virus SARS-CoV-2.
Referensi
- Beigel JH, Nam HH, Adams PL, Krafft A, Ince WL, El-Kamary SS, et al. Advances in respiratory virus therapeutics – A meeting report from the 6th isirv Antiviral Group conference. Antiviral Res. 2019;167:45–67.
- Brown AJ, Won JJ, Graham RL, Dinnon KH, Sims AC, Feng JY, et al. Broad spectrum antiviral remdesivir inhibits human endemic and zoonotic deltacoronaviruses with a highly divergent RNA dependent RNA polymerase. Antiviral Res. 2019;169(February):104541.
- Gao J, Tian Z, Yang X. Breakthrough: Chloroquine phosphate has shown apparent efficacy in treatment of COVID-19 associated pneumonia in clinical studies. Biosci Trends. 2020;14(1):72–3.
- Martinez MA. Compounds with therapeutic potential against novel respiratory 2019 coronavirus. Antimicrob Agents Chemother. 2020;(March):1–18.
- Mild/Moderate 2019-nCoV Remdesivir RCT (NCT04252664)
- Severe 2019-nCoV Remdesivir RCT (NCT04257656)

Seorang dokter, saat ini sedang menjalani pendidikan dokter spesialis penyakit dalam FKUI. Peminat berbagai topik sejarah dan astronomi.
