Coronavirus: Dari SARS, MERS, Sampai COVID-19

Cecep Suryani Sobur Pulmonologi, Kedokteran, Tropik-Infeksi Leave a Comment

Saat ini WHO mengeluarkan tanggap darurat dunia ditengah merebaknya pandemi infeksi novel coronavirus (COVID-19) yang berasal dari Wuhan, RRC. Sebelumnya tahun 2012 dunia juga tercengang munculnya infeksi berbahaya coronavirus berupa middle-east respiratory syndrome atau MERS. Sebetulnya apa itu coronavirus dan kenapa muncul varian-varian virus yang berbahaya tersebut? Mari kita coba pelajari hal tersebut

Struktur Dasar dan Sifat Umum

Coronavirus merupakan jenis virus RNA dengan strand positif RNA. Virus ini bagian dari keluarga atau famili Coronaviridae. Struktur utamanya berupa adanya envelop atau bungkus serta genom RNA beukuran 31 Kb sehingga merupakan salah satu virus RNA dengan genom terbesar di dunia.

Diagram struktur coronavirus
Diagram struktur coronavirus

Sebagai virus RNA, coronavirus menjalankan proses siklus replikasi seluruhnya di sitoplasma dari sel. Jadi, tidak melalui proses masuknya genom ke inti sel atau tidak melalui proses perubahan terlebih dahulu genom menjadi DNA oleh reverse transcriptase. Adapun untuk lebih jelas mengenai siklus replikasi coornavirus dapat disimak di bagan di bawah ini:

Siklus replikasi coronavirus
Siklus replikasi coronavirus. (Gambar oleh Crenim at English Wikipedia, CC BY-SA 3.0)

Keberagaman Coronavirus

Coronavirus menginfeksi berbagai jenis spesies hewan dan temasuk manusia. Jenis infeksi yang ditimbulkan terutama di saluran pernapasan dan pencernaan sehingga menyebabkan manifestasi klinis yang beragam.

Virus ini dikenal menyebabkan penyakit saluran pernapasan atau patogen utama pada binatang peliharaan serta binatang ternak dan menyebabkan kerugian terutama dampaknya secara ekonomi bagi peternak.

Pada manusia, umunya coronavirus menyerang saluran napas bagian atas, Namun, beberapa kali muncul varian baru yang mengakibatkan infeksi serius berupa pneumonia. Sebagai perbandingan di bawah ini ditampilkan filogeni coronavirus untuk mempelihatkan keberagaman dari virus tersebut:

Infeksi Coronavirus pada Manusia

Selain hewan, virus ini juga menyebabkan penyakit pada manusia. Hal ini menjadi perhatian karena dalam satu dekade terakhir setidaknya muncul tiga varian yang dianggap berpotensi menyebabkan kegawatan medis dalam skala internasional yaitu SARS-CoV, MERS-CoV, dan 2019-nCoV. Di bawah ini adalah perbandingan antara beberapa coronavirus yang menginfeksi manusia:

VirusReseptorWaktu ditemukanSel yang terinfeksiPenyakit yang ditimbulkan
OC43Tidak diketahui, keterlibatan asam sialat dan HLA kelas 1Dari BCoV tahun 1890Sel epitel saluran napas bersilia, makrofag in vitro, neuronInfeksi saluran napas atas, pneumonia
229EAminopeptidase NSekitar 1700-1800 dari NL63Sel epitel saluran napas tanpa silia, monosit, sel neuronInfeksi saluran napas atas, infeksi saluran cerna, pneumonia
NL63Ace2Ditemukan 2004Sel epitel saluran napas bersiliaInfeksi saluran napas atas dan bawah, berkaitan dengan batuk rejan pada anak-anak
HKU1Tidak diketahuiDitemukan 2005Sel epitel saluran napas bersiliaInfeksi saluran napas atas, pneumonia, gejala saluran cerna
SARSAce2, ada peran dari DC-signMuncul 2002Sel epitel, sel bersilia, dan pneumosit tipe IIInfeksi saluran napas bawah, pneumonia, DAD, ARDS
MERSDPP4Muncul 2012Sel epitel saluran napas, sel epitel ginjal, sel dendritikInfeksi saluran napas bawah, pneumonia, gagal ginjal
Tabel perbandingan coronavirus yang menginfeksi manusia

Secara umum penyakit infeksi coronavirus pada manusia terbagi dua yaitu 1) virus dengan patogenisitas rendah dan 2) virus dengan patogenisitas tinggi.

Coronavirus dengan Patogenisitas Rendah

Termasuk ke dalam kelompok ini adalah HCoV-229E, HCoV- OC43, HCoV-NL63, dan HCoV-HKU. Kelompok virus ini menyebabkan infeksi saluran napas bagian atas yang ringan-sedang seperti cold-like respiratory illnesses musiman. Dalam kata lain penyakit flu atau selesma yang sering datang secara musiman salah satu penyebab yang banyak adalah coronavirus.

Coronavirus dengan Patogenisitas Tinggi

Kelompok virus ini menimbulkan penyakit radang saluran napas bagian bawah atau pneumonia. Kondisi ini dapat menyebabkan kondisi fatal karena menyebabkan acute lung injury (ALI) dan acute resporatory distress syndrome (ARDS). Kedua kondisi tersebut berkaitan dengan kegagalan organ paru berfungsi sebagai alat tukar oksigen (ventilasi) dan berkaitan dengan tingkat mortalitas atau kematian yang tinggi.

Beberapa coronavirus dengan patogenisitas tinggi dikenal sebagai penyebab beberapa kondisi darurat medis internasional beberapa diantaranya:

  • Epidemi SARS tahun 2002-2003 yang menginfeksi 8400 orang dengan tingkat kematian 9,6%
  • MERS tahun 2012 yang menginfeksi 1936 orang dengan tingkat kematian ~36%
  • Yang terakhir adalah COVID-19 yang telah banyak menyebar ke banyak negara.

Hal yang menjadi ciri dari beberapa pandemi di atas adalah munculnya varian yang berasal dari hewan. Seperti dijelaskan di atas bahwa coronavirus menginfeksi berbagai jenis spesies dari hewan sampai manusia. Virus yang muncul dengan patogenisitas tinggi di atas umumnya merupakan peristiwa loncatan coronavirus yang awalnya menginfeksi hewan kemudian berubah menjadi patogen di manusia.

Contohnya pada MERS-CoV, virus aslinya adalah patogen pada hewan unta dan kelelawar. Begitu pula pada SARS-CoV dan 2019-nCoV. Awal muasalnya adalah coronavirus yang berasal dari hewan kemudian bermutasi dan menjadi varian yang menginfeksi manusia.

COVID-19

COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 atau sebelumnya dikenal dengan 2019-nCoV. Pada awalnya COVID-19 muncul sebagai wabah pneumonia yang terjadi di Wuhan, RRC. Kemudian wabah ini saat ini sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia dan sejak 20 Januari 2020 oleh WHO dideklarasikan sebagai public health emergency of international concern.

Penamaan virus dan penyakit pada SARS, MERS, dan COVID-19
Penamaan virus dan penyakit pada SARS, MERS, dan COVID-19
Sebaran COVID-19 per 20 Februari 2020
Sebaran COVID-19 per 20 Februari 2020

Faktor Penyebab Munculnya SARS-CoV-2

SARS-CoV-2 merupakan jenis coronavirus dari kluster β-coronavirus. Virus ini merupakan virus zoonotik yang artinya berasal dari virus coronavirus yang menginfeksi binatang seperti halnya SARS-CoV dan MERS-CoV.

Posisi SARS-CoV-2 pada filogeni coronavirus
Posisi SARS-CoV-2 pada filogeni coronavirus. a) Analisa multiple sequence alignment (MSA). b) Posisi SARS-CoV-2 berdasarkan model evolusi. c) Posisi SARS-CoV-2 berdasarkan kedekatan kekerabatan

Menurut data yang ada saat ini, SARS-CoV-2 berkaitan dengan pasar Seafood Huanan di Wuhan walaupun sampai saat ini belum ada data spesifik mengenai dari binatang apa virus ini pertama kali muncul.

Adapun dari struktur dan genomnya, diperkirakan virus ini merupakan virus chimera atau campuran antara coronavirus dari kelelawar dengan satu jenis lainnya yang tidak diketahui namun dengan membandingkan terhadap coronavirus lainnya, diperkirakan binatang tersebut kemungkinan besar adalah ular.

Biasanya virus yang memiliki inang berbeda spesies tidak dapat menginfeksi spesies yang berbeda. Misalnya coronavirus pada manusia tidak bisa begitu saja menginfeksi hewan begitu pula sebaliknya virus yang menginfeksi hewan tidak begitu saja bisa menginfeksi manusia. Hal ini dinamakan tropisme virus.

Namun, dalam kondisi kontak yang erat ditambah laju mutasi yang relatif cepat pada genom virus, dapat terjadi kondisi dimana muncul mutan virus baru yang bisa berpindah ke spesies lain. Dalam kondisi terisolasi, mutan ini biasanya tidak dapat bertahan hidup karena tidak mendapatkan inang. Namun, dalam kondisi dimana ada hubungan erat antar spesies, maka mutan ini kemudian bisa mendapat inang baru dan dapat berkembang biak.

Transmisi SARS-CoV-2

Penyebaran virus ini berlangsung dari manusia ke manusia terutama melalui droplet. Droplet ini seperti aerosol, dihasilkan saat batuk atau bersin. Virus yang berada dalam droplet selama setidaknya 3 jam. Adapun kemampuan SARS-CoV-2 bertahan di permukaan benda padat dapat dilihat di tabel berikut ini:

PermukaanTemperaturPersistensi
MetalSuhu ruangan5 hari
KayuSuhu ruangan4 hari
KertasSuhu ruangan1-5 hari
KacaSuhu ruangan4 hari
Plastik22 – 25°C≤ 5 hari
Gaun bedahSuhu ruangan2 hari

Patogenesis COVID-19

SARS-CoV-2 masuk ke dalam sel melalui reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (Ace2). Pada paru manusia, reseptor ini diekspresikan oleh sel epitel alveolar tipe I dan II. Diantara kedua sel ini 83% sel alveolar tipe II mengekspresikan Ace2 sehingga sel ini merupakan target utama dari SARS-CoV-2.

Model infeksi SARS-CoV-2 pada alveolus
Model infeksi SARS-CoV-2 pada alveolus

Masuknya virus ke reseptor ini kemudian akan menyebabkan ekspresi Ace2 meningkat yang kemudian menyebabkan kerusakan sel alveolar. Kerusakan ini kemudian akan membangkitkan respon reaksi sistemik yang berat dan bahkan kematian. Respon imun inilah yang menyebabkan kondisi klinis berat seperti sepsis.

Respon imun pada COVID-19
Respon imun pada COVID-19

Manifestasi Klinis COVID-19

Gejala klinis COVID-19 sangat beragam, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik), gejala ringan, pneumonia, pneumonia berat, ARDS, sepsis, hingga syok sepsis. Sekitar 80% kasus tergolong ringan atau sedang, 13,8% mengalami sakit berat, dan sebanyak 6,1% pasien jatuh ke dalam keadaan kritis.

Gejala ringan berupa pasien dengan infeksi akut saluran napas atas tanpa komplikasi, bisa disertai dengan demam, fatigue, batuk (dengan atau tanpa sputum), anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, kongesti nasal, atau sakit kepala. Pasien tidak membutuhkan suplementasi oksigen. Pada beberapa kasus pasien juga mengeluhkan diare dan muntah.

Perjalanan penyakit COVID-19
Perjalanan penyakit COVID-19

Adapun gejala berat berupa pneumonia yaitu demam ditambah dengan salah satu dari gejala berikut:

  • Frekuensi pernapasan >30x/menit
  • Distres pernapasan berat
  • Saturasi oksigen 93% tanpa bantuan oksigen
Perjalanan penyakit COVID-19 berat
Perjalanan penyakit COVID-19 berat

Tatalaksana Klinis Infeksi Saluran Napas Terduga Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)

Sebagai antisipasi kemungkinan penyebaran COVID-19 ke Indonesia, maka perlu tatalaksana khusus terutama pada kondisi dimana dicurigai kemungkinan infeksi saluran napas yang disebabkan SARS-CoV-2. Berikut penjelasannya.

Pentingnya Deteksi Dini Kasus COVID-19

COVID-19 dapat muncul sebagai keluhan yang ringan, sedang maupun berat. Pada kondisi berat, dapat ditemukan pnemonia berat, gagal nafas, sepsis, dan syok septik.

Deteksi dini pasen yang dicurigai memungkinkan untuk segera dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Disamping itu, identifikasi dini pasien manifestasi yang berat memungkinkan intervensi terapi suportif dapat diberikan lebih cepat dan tepat serta akses untuk kebutuhan perawatan di ruang intensif.

Pasien dengan gejala klinis yang ringan tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit kecuali jika terdapat kemungkinan gejala memburuk dengan cepat. Pasien yang dapat dirawat jalan diberi instruksi untuk segera kembali ke rumah sakit jika gejala memburuk.

Case Definitions untuk COVID-19

Untuk kasus COVID-19 terdapat klasifikasi pasien yaitu sebagai berikut:

  • Orang tanpa gejala (OTG), yaitu orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang positif COVID-19.
  • Orang dalam pemantauan (ODP) yaitu salah satu dari:
    1. Orang yang mengalami demam (≥38°C) atau riwayat demam; atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal.
    2. Orang yang mengalami gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probable COVID-19
  • Pasien dalam pengawasan (PDP), yaitu salah satu dari:
    1. Orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yaitu demam (≥38°C) atau riwayat demam; disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan seperti: batuk/sesak nafas/sakit tenggorokan/pilek/pneumonia ringan hingga berat DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal.
    2. Orang dengan demam (≥38°C) atau riwayat demam atau ISPA DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19
    3. Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
  • Pasien terkonfirmasi COVID-19 yaitu pasien dengan hasil positif melalui pemeriksaan PCR

Kontak didefinisikan sebagai:

  • Paparan di fasilitas kesehatan (memberikan pelayanan langsung kepada pasien dengan COVID-19, bekerja bersama dengan tenaga kesehatan yang terinfeksi COVID-19, mengunjungi atau tinggal di lingkungan yang sama dengan pasien COVID-19)
  • Bekerja bersama dalam jarak dekat atau berada dalam satu lingkungan ruang kelas yang sama dengan pasien COVID-19
  • Bepergian bersama dengan pasien COVID-19 dengan kendaraan apapun
  • Tinggal bersama dalam satu rumah tangga dengan pasien COVID-19.

Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

Merupakan bagian integral penting dalam tatalaksana pasien. Kecurigaan COVID-19 dan harus dimulai ketika pasien masuk ke rumah sakit, baik itu melalui poliklinik ataupun melalui ruang gawat darurat. Tindakan pencegahan standar yang dapat dilakukan diantaranya kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk menghindari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau sekret. Pencegahan standar juga termasuk didalamnya pencegahan luka oleh alat medis yang tajam, tatalaksana limbah medis, sterilisasi alat dan pembersihan lingkungan.

  • Di triage: pakaikan masker pada pasien tersangka COVID-19, tempatkan di ruangan isolasi jika tersedia. Beri jarak setidaknya 1 meter dari pasen lain. Instruksikan semua pasien untuk memakai pelindung mulut dan hidung ketika batuk atau bersin dengan tissue, jika tidak tersedia dapat menggunakan lengan baju. Bersihkan tangan setelah kontak dengan sekret saluran pernafasan.
  • Pencegahan penularan droplet: gunakan masker jika bekerja pada jarak 1-2 meter dari pasien. Tempatkan pasien sendiri pada ruangan isolasi atau dapat bersamaan dengan pasien dengan penyebab yang sama. Ketika memberikan perawatan pada pasien dengan gejala klinis batuk atau bersin, gunakan pelindung mata (google atau masker wajah) untuk melindungi dari percikan yang dapat terjadi. Batasi pergerakan pasien di dalam rumah sakit dan pastikan pasien menggunakan masker ketika berada diluar ruangannya
  • Pencegahan penularan kontak: gunakan APD (masker, pelindung mata, sarung tangan dan gown ketika memasuki ruangan dan segera melepasnya ketika sudah keluar. Jika memungkinkan, gunakan peralatan yang bersifat sekali pakai/disposable. Minimalisasi dan hindari bersentuhan atau terkena paparan barang atau anggota tubuh yang kemungkinan terkena paparan.
  • Pencegahan penularan aerosol: penggunaan APD terutama masker N95 direkomendasikan pada tindakan yang memicu aerosol seperti suction, intubasi, bronkoskopi, dan RJP. Tindakan yang dapat menghasilkan aerosol juga disarankan untuk dilakukan pada ruangan bertekanan negative dengan minimal 12 ACH (air change perhour).

Sindrom Klinis COVID-19

Gejala sistemik dan pernapasan COVID-19
Gejala sistemik dan pernapasan COVID-19

Manifestasi klinis COVID-19 dapat dibagi menjadi hal berikut:

  • Tanpa komplikasi. Pasien dengan infeksi pernafasan atas tanpa komplikasi, dengan keluhan yang non spesifik seperti demam, batuk, nyeri menelan, hidung tersumbat, lemas, nyeri kepala, nyeri otot atau lemas. Pasien usia tua dan imunokompromais mungkin tampil dengan klinis yang tidak tipikal. Pada pasen kelompok ini tidak didapatkan tanda dehidrasi, sesak napas ataupun sepsis
  • Pneumonia ringan. Pasien dengan pneumonia tanpa tanda pneumonia berat. Diagnosis pnemonia ditegakkan berdasar terdapat infiltrat baru/ penambahan infiltrat pada pemeriksaan foto toraks disertai dengan adanya gejala/tanda bahwa infiltrat tersebut disebabkan oleh proses infeksi yaitu: sputum purulen, lekositosis/ lekopeni atau demam
  • Pneumonia berat. Demam atau terduga infeksi pernafasan (pneumonia) dengan ditambah salah satu dari laju respirasi >30x per menit, gangguan pernafasan yang berat, atau SpO2 <90% tanpa pemberian suplementasi oksigen
  • Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
    • Onset: baru atau gejala pada saluran pernafasan yang memburuk dalam 1 minggu dari gejala klinis yang sudah diketahui
    • Gambaran radiologi paru (foto toraks, CT scan atau USG paru): opasitas bilateral, tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh efusi, kolaps paru atau lobus, atau nodul
    • Etiologi edema: gagal nafas yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh gagal jantung atau overload cairan. Dibutuhkan pemeriksaan ojektif seperti ekokardiografi untuk dapat mengeksklusi penyebab hidrostatis dari edema jika tidak ditemukan faktor risiko
    • Oksigenasi pada dewasa:
      • ARDS ringan: 200 mmHg < PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg (dengan PEEP atau CPAP ≥5 cmH2O atau tidak terintubasi)
      • ARDS sedang: 100 mmHg < PaO2/FiO2 ≤200 mmHg (dengan PEEP ≥5 cmH2O atau tidak terintubasi)
      • ARDS berat: PaO2/FiO2 ≤100mmHg (dengan PEEP ≥5 cmH2O atau tidak terintubasi)
      • Jika PaO2 tidak tersedia, SpO2/FiO2 ≤315 menandakan ARDS
  • Sepsis. Disfungsi organ yang mengancam nyawa yang disebabkan oleh dysregulated respon imun terhadap infeksi baik yang terduga ataupun sudah terkonfirmasi. Tanda-tanda dari disfungsi organ diantaranya gangguan kesadaran, pernafasan yang cepat atau sulit, saturasi oksigen yang rendah, penurunan jumlah urin, denyut jantung yang cepat, nadi lemah, ekstremitas dingin atau tekanan darah yang rendah, kulit yang lembab atau adanya pemeriksaan lab yang menunjukan koagulopati, trombositopenia, asidosis, kadar laktat atau bilirubin yang meningkat
  • Syok septik. Pasien dengan hipotensi meskipun sudah diberikan resusitasi cairan, membutuhkan vasopressor untuk mempertahankan MAP ≥65 mmHg dan serum laktat > 2mmol/L

Terapi suportif awal dan evaluasi

  • Berikan suplementasi oksigen secepatnya pada pasen dengan infeksi pernafasan akut yang berat, gagal nafas, hipoksemia atau syok. Target SpO2 ≥90% pada pasien dewasa dan SpO2 ≥92-95% pada pasien yang sedang hamil. Titrasi naik pemberian oksigen sampai target saturasi oksigen diatas tercapai. Pada ruangan dimana pasien dengan infeksi pernafasan akut yang berat dirawat, harus selalu tersedia oksimetri, sistem oksigenasi yang lengkap dan bersifat sekali pakai (nasal kanul, masker simple, dan masker dengan reservoir). Gunakan kewaspadaan kontak ketika menyentuh alat penghantar oksigen pada pasien dengan COVID-19.
  • Pemberian cairan diberikan secara konservatif jika tidak ditemukan tanda syok. Pemberian cairan harus dilakukan secara hati-hati karena dapat memperburuk oksigenasi jika terjadi overhidrasi
  • Pemberian antibiotik empiris ditujukan untuk semua patogen yang mungkin menjadi etiologi SARI. Antibiotik harus segera diberikan dalam 1 jam pertama pada pasen dengan sepsis. Terapi antibiotik empiris didasarkan pada diagnosa klinis (pneumonia komunitas, nosokomial atau sepsis), dengan mempertimbangkan epidemilogi lokal dan data lokal kepekaan terhadap antibiotik. Terapi empiris mencakup pemberian neuraminidase inhibitor untuk influenza jika terdapat kecurigaan klinis. Deeskalasi terapi empirik harus dilakukan dan berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologis dan pertimbangan klinis. Pemberian antibotik bukan ditujukan untuk COVID-19
  • Pantau dengan ketat pasien dengan infeksi pernafasan akut yang berat dan jika terjadi perburukan klinis yang progresif segera lakukan tintervensi terapi suportif jika dibutuhkan.
  • Nilai keberadaan komorbid, tatalaksana secara adekuat dan di sisi lain sesuaikan terapi yang diberikan dengan komorbid yang ada.
  • Pemberian kortikosteroid sistemik tidak disarankan untuk rutin diberikan sebagai terapi pneumonia yang diakibatkan oleh virus atau pada gagal nafas

Tatalaksana Pasien dengan Gagal Nafas dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

  • Identifikasi kemungkinan gagal nafas hipoksemia berat pada pasien dengan gangguan pernafasan yang tidak mencapai target dengan terapi oksigen standar.
  • Oksigen aliran tinggi / high-flow nasal oxygen (HFNO) atau ventilasi non invasif (NIV) dapat diberikan pada pasien gagal nafas hipoksemik tertentu.
  • Intubasi endotrakeal harus dilakukan oleh petugas medis yang sudah terlatih dan berpengalaman dengan menggunakan kewaspadaan airborne
  • Gunakan Ventilasi mekanik dengan strategi lower tidal volume (4-8ml/kg predicted body weight/PBW) dan tekanan inspirasi yang lebih rendah (plateu pressure <30cm H2O).
  • Pada pasien dengan ARDS yang berat, direkomendasikan prone ventilation >12 jam per hari
  • Pada pasien ARDS tanpa hipoperfusi jaringan, direkomendasikan pemberian cairan konservatif.
  • Pada pasien dengan ARDS sedang sampai berat, PEEP yang lebih tinggi disarankan dibanding PEEP rendah
  • Neuromuskuler blockade infus kontinu tidak disarankan untuk digunakan secara rutin.
  • Pertimbangkan untuk merujuk ke Faskes yang memiliki extracorporeal life support (ECLS) pada pasien dengan hipoksemia yang refrakter meskipun protective mechanical ventilation telah digunakan.
  • Hindari melepaskan pasien dari ventilator yang dapat berakibat pada hilangnya PEEP dan atelektasis. Untuk itu gunakan kateter inline untuk suction dan klem endotrakeal tube ketika pelepasan dari ventilator dibutuhkan (misalnya untuk transfer)

Tatalaksana Syok Septik

  • Diagnosis syok septik pada dewasa ketika ditemukan adanya tanda infeksi DAN membutuhkan vasopressor untuk mempertahankan MAP ≥ 65 mmHg DAN kadar laktat ≥2 mmol/L, tanpa adanya hipovolemia. Jika pemeriksaan laktat tidak tersedia gunakan MAP dan tanda klinis untuk menetukan keberadaan syok.
  • Cairan resusitasi pada pasien dewasa dengan syok septik yang direkomendasikan adalah paling tidak 30 ml/kg cairan kristaloid isotonis dalam 3 jam pertama.
  • Tidak diperkenankan menggunakan cairan kristaloid hipotonis, starches atau gelatin untuk resusitasi.
  • Hati hati karena pemberian cairan dapat menyebabkan kelebihan cairan, termasuk gagal nafas. Perhatikan tanda-tanda kelebihan cairan (distensi vena jugular, ronki basah halus pada auskultasi paru, ditemukannya edema paru pada foto toraks); jika ditemukan maka kurangi atau hentikan pemberian cairan.
  • Cairan kristaloid yang disarankan adalah salin normal atau ringer laktat. Tentukan kebutuhan pemberian bolus tambahan (250-1000 mL pada dewasa). Target perfusi yang ingin dicapai adalah MAP (>65 mmHg), urin output (>0,5/mL/kg) dan perbaikan dari kelembababan kulit, pengisian kapiler, kesadaran dan kadar laktat.
  • Berikan vasopressor jika syok menetap selama atau setelah resusitasi cairan. Target adalah MAP ≥65 mmHg pada dewasa.
  • Jika kateter vena sentral tidak tersedia, vasopressor dapat diberikan melalui akses perifer namun gunakan vena yang besar dan evaluasi ketat adanya tanda ekstravasasi cairan dan nekrosis jaringan lokal.
  • Jika perfusi tetap buruk dan disfungsi kardiak terjadi meskipun MAP telah tercapai dengan pemberian cairan dan vasopressor, pertimbangkan pemberian agen inotropic seperti dobutamine.

Pengambilan Spesimen Untuk Pemeriksaan Penunjang.

  • Ambil kultur darah untuk bakteri untuk identifikasi penyebab pneumonia dan sepsis, sebaiknya sebelum diberikan antibiotik namun JANGAN sampai menunda pemberian antibiotik untuk mengambil kultur.
  • Ambil spesimen dari saluran pernafasan atas (nasofaring dan orofaring) dan saluran pernafasan bawah (sputum, aspirasi endotrakeal atau cairan bronkoalveolar) untuk pemeriksaan SARS-CoV-2 guna pemeriksaan RT-PCR. Untuk pasen yang terintubasi hanya spesimen dari saluran pernafasan bawah saja. Gunakan APD yang lengkap saat mengambil spesimen. Induksi sputum tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko transmisi via aerosol. Pada pasien yang dirawat dengan CIVUD-19 yang sudah terkonfirmasi, pengambilan sampel berulang dilakukan untuk melihat viral clearance. Pengambilan sampel disarankan minimal setiap 2 sampai 4 hari sampai setidaknya 2 hasil negatif bertutur-turut dengan jeda minimal 24 jam ditemukan, baik pada sampel saluran pernafasan

Rumah Sakit Rujukan COVID-19

COVID-19 saat ini sudah terkonfirmasi masuk ke Indonesia. Untuk penanganannya pemerintah sudah menunjuk rumah sakit rujukan untuk penanganan kasus COVID-19. Adapun daftar rumah sakit rujukan kasus COVID-19 dapat dilihat di: Daftar Rumah Sakit Rujukan COVID-19 di Indonesia.

Terapi Antivirus dan Vaksin

Saat ini memang penelitian untuk pengembangan antivirus maupun vaksin terhadap SARS-CoV-2 masih berlangsung. Terutama vaksin, pengembangannya mungkin harus menunggu waktu satu sampai satu setengah tahun.

Adapun untuk terapi antivirus saat ini sudah ada beberapa kandidat yang masuk dalam tahap uji klinis fase 3. Dua yang dianggap menjanjikan adalah remdesivir dan koloroquin. Bahkan, saat ini peneliti dari RRC melaporkan hasil interim yang menunjukan kemungkinan kloroquin dapat efektif dalam mengobati COVID-19 (Gao J, et al. 2020).

Kesimpulan

Fenomena munculnya COVID-19 mengingatkan kita bahwa hubungan antara manusia dan lingkungannya bersifat dinamis. Antisipasi ancaman infeksi akan tetap ada yang salah satunya bersumber dari lingkungan biologis di sekitar kita. Penting untuk dilakukan pencegahan terutama mempraktekan hal dasar seperti sanitasi lingkungan dan memperlakukan lingkungan biologis dengan baik sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Selain artikel ini Anda juga dapat menyimak paparan tentang topik COVID-19 ini di video di bawah ini:

Referensi

  1. Channappanavar R, Perlman S. Pathogenic human coronavirus infections: causes and consequences of cytokine storm and immunopathology. Semin Immunopathol. 2017;39(5):529–39.
  2. Gao J, Tian Z, Yang X. Breakthrough: Chloroquine phosphate has shown apparent efficacy in treatment of COVID-19 associated pneumonia in clinical studies. Biosci Trends. 2020;14(1):72–3.
  3. Gralinski LE, Baric RS. Molecular pathology of emerging coronavirus infections. J Pathol. 2015;235(2):185–95.
  4. Luk HKH, Li X, Fung J, Lau SKP, Woo PCY. Molecular epidemiology, evolution and phylogeny of SARS coronavirus. Infect Genet Evol. 2019;71(December 2018):21–30.
  5. Pengurus Besar Perhimpunan Respirologi dan Penyakit Kritis (Indonesia Society of Respirology). Tatalaksana Klinis Infeksi Saluran Napas Terduga Infeksi Novel Corona Virus (nCoV)
  6. Perhimpinan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pneumonia COVID-19: Diagnosis dan Tatalaksana di Indonesia. Jakarta: PDPI; 2020.
  7. Rothan HA, Byrareddy SN. The epidemiology and pathogenesis of coronavirus disease (COVID-19) outbreak. J Autoimmun. 2020;(PG-102433):102433.
  8. Sun P, Lu X, Xu C, Sun W, Pan B. Understanding of COVID-19 based on current evidence. J Med Virol. 2020;0–1.
  9. Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan H, et al. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. J Penyakit Dalam Indones. 2020 Apr 1;7(1):45.
  10. Yang D, Leibowitz JL. The structure and functions of coronavirus genomic 3’ and 5’ ends. Virus Res. 2015 Aug 3;206:120–33.
  11. https://www.kemkes.go.id/index.php
  12. https://covid19.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/info-corona-virus/dokumen-resmi-kesiapsiagaan-menghadapi-novel-coronavirus-covid-19-revisi-ke-4/#.XovcCYgzZPY

Tinggalkan Balasan