Jenis-jenis Vaksin Covid-19

Cecep Suryani Sobur Alergi-Imunologi, Kedokteran, Tropik-Infeksi Leave a Comment

Vaksinasi Covid-19 diyakini menjadi kunci dalam keluar dari masalah pandemi Covid-19 yang sedang kita alami saat ini. Pemerintah Indonesia sendiri menyiapkan program vaksinasi massal dengan vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Sinovac, perusahaan produsen vaksin yang berasal dari Tiongkok. Namun selain Sinovac kita juga mendengar vaksin Sputnik V dari Russia serta jenis-jenis vaksin Covid-19 lain seperti vaksin dari Moderna atau Pfizer. Sebenarnya bagaimana perbedaan dan persamaan dari vaksin-vaksin tersebut?

Selain dalam bentuk artikel, pembahasan mengenai jenis-jenis vaksin COvid-19 ini juga dapat disimak di video berikut ini:

Vaksin Memasukan Antigen ke Dalam Tubuh

Pada dasarnya vaksinasi berusaha untuk memasukan antigen ke dalam tubuh. Antigen bisa berupa kuman utuh yang diinaktivasi atau dilemahkan ataupun bagian tertentu dari kuman. Dalam hal vaksin Covid-19, antigen yang digunakan kebanyakan adalah spike protein dari virus SARS-CoV-2. Di bawah ini adalah gambar struktur virus SARS-CoV-2 dan antigen yang ada di virus tersebut:

Struktur virus SARS-CoV-2
Struktur virus SARS-CoV-2

Adapun perbedaan dari jenis-jenis vaksin Covid-19 adalah cara antigen ini diolah dan dimasukan ke dalam tubuh. Setidaknya ada lima jenis metode vaksinasi berdasarkan cara antigen dimasukan ke dalam tubuh:

Jenis-jenis vaksin Covid-19 berdasarkan metode pemberian antigen yang dipakai
Jenis-jenis vaksin Covid-19 berdasarkan metode pemberian antigen yang dipakai

Vaksin Hidup yang Dilemahkan

Cara ini telah digunakan selama berabad-abad lamanya. Bahkan Edward Jenner yang merupakan Bapak vaksinasi modern juga menggunakan cara ini. Virus pada jenis vaksin ini dilemahkan sehingga walaupun masih bisa menginfeksi, namun hanya menimbulkan gejala ringan. Beberapa vaksin yang memakai cara ini seperti vaksin BCG, campak, cacar, dan cacar air. Untuk vaksin Covid-19, hanya sebagian kecil peneliti yang mencoba membuat vaksin Covid-19 dari vaksin hidup yang dilemahkan.

Vaksin Virus Utuh yang Diinaktivasi

Hampir sama dengan virus yang dilemahkan. Hanya saja, virus yang diinaktivasi berarti virus sudah tidak bisa menginfeksi tubuh. Ketika diinjeksikan, virus yang ada kemudian bereaksi dengan sistem imun tubuh dan membentuk imunitas terhadap virus yang ada di dalam vaksin. Sebagai informasi, untuk mekanisme bagaimana vaksinasi membangkitkan sistem pertahanan tubuh dapat disimak di video di bawah ini:

Adapun vaksin Covid-19 yang menggunakan metode virus yang diinaktivasi ini cukup banyak. Salah satunya adalah vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia.

Vaksin Covid-19 buatan Sinovac
Vaksin Covid-19 buatan Sinovac

Bagian Protein Virus

Terkadang untuk bakteri atau virus utuh, vaksin membawa lebih dari satu jenis antigen. Kadang-kadang sering menyebabkan reaksi ikutan yang cukup kuat misalkan panas tinggi. Salah satu cara yang kemudian dikembangkan adalah dengan memilih antigen yang diolah sebagai vaksin. Misalkan vaksin hepatitis B, bagian yang dipilih adalah protein HBsAg. Jadi vaksin hepatitis B bukan berisi virus hepatitis B utuh namun hanya protein HBsAg saja.

Kelemahan dari vaksin jenis ini adalah kadang reaksi imunitasnya kurang. Oleh sebab itu, biasanya ditambahkan bahan ajuvan untuk menambah reaksi imunitas. Selain itu, juga vaksin diberikan lebih dari satu sekali sehingga reaksi imunitas yang diberikan cukup baik.

Terdapat beberapa vaksin Covid-19 yang menggunakan metode ini namun belum sampai ke uji klinis fase III.

Vaksin mRNA

Jenis vaksin ini merupakan salah satu teknologi yang terbaru dari vaksin. Perbedaan terbesar, vaksin mRNA tidak membawa antigen secara langsung namun membawa informasi pembentukan antigen dalam bentuk mRNA dari spike protein.

mRNA yang dimasukan ke dalam tubuh akan masuk ke dalam sel. Di dalam sel, mRNA oleh sel tubuh manusia akan dibaca dan kemudian sel tersebut akan membuat spike protein dari SARS-CoV-2. Dengan demikian, antigen diproduksi oleh tubuh manusia.

mRNA tidak tinggal secara permanen namun akan dihancurkan setelah digunakan. Spike protein yang diproduksi kemudian akan bereaksi dengan sistem imunitas dan membangkitkan imunitas adaptif untuk membentuk pertahanan terhadap Covid-19.

Keuntungan dari metode ini adalah, kita hanya perlu potongan informasi dari virus sehingga untuk mengembangkan sebuah vaksin dapat dilakukan secara cepat. Selain itu, karena protein yang diproduksi dapat banyak, maka reaksi imunitas yang dicapai juga cukup tinggi. Kelemahan utama adalah bahwa mRNA kurang stabil sehingga memerlukan proses penyimpanan dengan suhu yang rendah sehingga cukup meyulitkan dalam proses distribusi vaksin jenis mRNA ini.

Adapun vaksin Covid-19 yang menggunakan metode ini seperti vaksin buatan Moderna dan Pfizer.

Vaksin Covid-19 produksi Pfizer yang merupakan jenis vaksin Covid-19 mRNA
Vaksin Covid-19 produksi Pfizer yang merupakan jenis vaksin Covid-19 mRNA

Vaksin dengan Vektor Virus

Vaksin dengan vektor virus kurang lebih sama dengan vaksin mRNA. Bedanya adalah pada vektor virus, mRNA dititipkan ke dalam virus. Jadi gen spike protein akan direkombinasi dengan genom virus. Kemudian virus ini dijadikan sebagai vaksin. Saat vaksin dimasukan, maka virus akan menginfeksi sel ke dalamnya dan karena di dalam virus ada gen spike protein, maka virus akan membuat sel memproduksi spike protein dari SARS-CoV-2.

Tentu saja virus yang dipilih sebagai vektor adalah jenis virus yang tidak membuat penyakit di manusia, misalnya adalah adenovirus tipe 5. Keuntungan vaksin dengan vektor virus ini dibandingkan dengan vaksin mRNA adalah vaksinnya lebih stabil sehingga metode penyimpanan dan distribusi tidak sesulit vaksin mRNA. Adapun contoh vaksin Covid-19 yang menggunakan teknologi ini adalah vaksin Sputnik V dari Rusia dan Astra-Zeneca dari Inggris.

Vaksin Covid-19 Astra-Zeneca yang termasuk jenis vaksin vektor virus rekombinan.
Vaksin Covid-19 Astra-Zeneca yang termasuk jenis vaksin vektor virus rekombinan.

Adapun kelemahan dari menggunakan metode ini adalah jika orang yang diberikan vaksin sudah memiliki imuntias terhadap vektor virus yang digunakan. Akibatnya tentu akan mengurangi efektivitas dari vaksin vektor virus tersebut.

Vaksin Covid-19 Terbaik

Sampai saat ini sebenarnya belum ada vaksin yang selesai melakukan uji klinis fase III. Yang ada adalah data interim atau preliminary. Namun, dikarenakan situasi darurat, beberapa vaksin telah disetujui untuk digunakan dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Salah satunya adalah vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia. Tentu ketika data yang ada telah cukup banyak, kita baru akan mengetahui vaksin mana yang paling baik digunakan dalam mencegah penyebaran Covid-19 ini.

Kesimpulan

Tidak diragukan lagi bahwa vaksin merupakan kunci penting dalam penanganan pandemi Covid-19. Saat ini terdapat berbagai jenis vaksin Covid-19 yang perbedaannya terletak terutama pada metode pengolahan dan pengiriman antigen virus. Data yang ada saat ini belum cukup untuk mendapat informasi vaksin jenis apa yang paling baik untuk digunakan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Referensi

  1. Al-kassmy J, Pedersen J, Kobinger G. Vaccine Candidates against Coronavirus Infections . Viruses. 2020;12(861):1–18.
  2. Kim JH, Marks F, Clemens JD. Looking beyond COVID-19 vaccine phase 3 trials. Nat Med. 2021
  3. Wang J, Peng Y, Xu H, Cui Z, Williams RO. The COVID-19 Vaccine Race: Challenges and Opportunities in Vaccine Formulation. AAPS PharmSciTech. 2020;21(6):1–12.
  4. WHO. Draft landscape and tracker of COVID-19 candidate vaccines. Januari 2021

Tinggalkan Balasan