Pertanyaan Seputar Vaksin Covid-19

Cecep Suryani Sobur Alergi-Imunologi, Kedokteran Leave a Comment

Saat ini sedang digalakan pemberian vaksin Covid-19. Banyak pertanyaan seputar pemberian vaksin ini. Berikut disajikan beberapa pertanyaan seputar vaksin Covid-19 beserta jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sumber dari jawaban dari pertanyaan ini berasal dari file yang disuguhkan dari PAPDI. Untuk file asli dapat didapat di tautan ini adapun mengenai tatalaksana Covid-19 dapat disimak di tautan ini.

Beberapa merek atau jenis vaksin Covid-19.
Beberapa merek atau jenis vaksin Covid-19. Dari kiri atas searah jarum jam vaksin Sinovac, Pfizer, Sputnik, dan Moderna.

Pertanyaan Seputar Efektivitas Vaksin Covid-19

Untuk vaksin yang seharusnya diberikan dua dosis apa akibatnya jika dosis kedua tidak diberikan? Bagaimana pula efeknya kalau dosis yang diberikan berlebihan?

Suntikan pertama sudah meningkatkan antibodi tetapi kadarnya masih rendah. Contohnya adalah vaksin Sinovac, suntikan pertama hanya membentuk antibodi dengan kadar separuh dari pada setelah suntikan kedua. Selain itu, titer antibodi yang dapat menetralisir virus baru terbentuk maksimal setelah 14 hari pascasuntikan vaksin yang kedua. Jadi suntikan kedua dibutuhkan agar mencapai efek perlindungan yang diharapkan.

Dosis Sinovac yang diberukan termasuk ke dalam kategori medium. Pada uji klinis tahap II, efektivitas dosis tinggi tidak terlalu berbeda hasilnya dengan dosis medium namun efek sampingnya lebih banyak. Pada dasarnya kelebihan dosis dapat menyebabkan peningkatan kejadian efek samping namun tidak berbahaya.

Berapa lama vaksin Covid-19 ini akan bekerja atau memberikan efek proteksi? Kapan harus diulang kembali? Apakah akan ada booster?

Sampai saat ini masih belum ditentukan apakah semua vaksin Covid-19 dapat ditentukan adanya keperluah booster. Hal ini dikarenakan memerlukan pengamatan titer antibodi yang panjang dan sampai saat data yang dibutuhkan belum banyak didapat.

Apakah vaksin Covid-19 di Indonesia dapat mencakup semua strain SARS-CoV-2?

Sampai saat ini WHO masih berpendapat reagen untuk tes serta vaksin yang digunakan sekarang masih efektif dalam deteksi dan proteksi Covid-19 termasuk untuk varian mutan.

Apakah boleh dokter mengizinkan pasien tidak memakai masker lagi setelah vaksin Covid-19?

Setelah vaksinasi tetap harus melaksanakan protokol kesehatan. Vaksinasi bukan menggantikan protokol kesehatan. Jika penularan Covid-19 dianggap sudah terkendali, pemerintah akan memberi petunjuk untuk mengurangi protokol kesehatan.

Berapa lama setelah vaksinasi terjadi serokonversi dan seroproteksi?

Setelah penyuntikan pertama, 14 hari setelahnya sudah terjadi serokonversi dan seroproteksi. Untuk vaksin Sinovac, titer antibodi paling tinggi dicapai 14 hari setelah tindakan kedua sehingga mampu mengurangi risiko penularan Covid-19.

Bagaimana peran imunitas seluler pada infeksi Covid-19?

Imunitas seluler berperan dalam eliminasi SARS-CoV-2 terutama dari sel yang terinfeksi virus tersebut. Pada penelitian, imunitas seluler ini diukur dengan melihat sitoki yang dihasilkan sel T helper 1. Jika sel T helper 1 berfungsi dengan baik, biasanya efektivitas vaksin akan tinggi.

Mengapa hasil uji klinis vaksin Sinovac di Turki, Brazil, dan Indonesia berbeda-beda?

Hasil suatu penelitian memang dapat berbeda bila dilakukan di tempat dan waktu yang berbeda meskipun menggunakan vaksin yang sama. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh besarnya subjek dan karakter subjek yang mengikuti penelitian serta virus pada populasi tersebut.

Pertanyaan Seputar Efek Samping Vaksin Covid-19

Bagaimana tingkat keamanan vaksin-vaksin Covid-19 yang tersedia?

Pada umumnya semua vaksin yang sedang menjalani uji klinik tahap 3 atau yang sudah mendapat EUA keamanannya baik

Bagaimana risiko terjadinya antibody dependent enhancement (ADE) setelah pemberian vaksin Covid-19?

Fenomena ADE contohnya adalah pada infeksi demam berdarah atau infeksi Dengue, dimana antibodi yang dihasilkan oleh satu serovar justru akan memperberat penyakit saat orang tersebut terinfeksi serovar yang berbeda. Untuk vaksin Covid-19 sendiri selama ini belum ada laporan mengenai terjadinya ADE. Kejadian ADE ini dipantau pada semua tahap uji klinik terutama pada fase uji hewan coba.

Apa standar yang harus diikuti penerima vaksin setelah divaksinasi?

Penerima vaksin jangan langsung pulang, tunggu sekitar 30 menit di ruang pemantauan. Jika terjadi reaksi atau gejala, segera lapor ke petugas. Apabila setelah 30 menit tidak ada keluhan, maka penerima vaksin boleh atau diizinkan untuk pulang.

Bagaimana cara mengatasi reaksi alergi berat (syok anafilaktik) pasca vaskin? Apakah pasien yang pernah mengalami anafilaksis pada pemberian vaksin lain dapat diberikan vaksin Covid-19? Apa langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah anafilaksis pasca vaksin ini?

Anafilaksis dapat terjadi pada pemberian obat dan vaksin apapun. Sebagai standar, kit anafilaksis tentu harus disiapkan setiap memberikan vaksin. Mereka yang pernah mengalami anafilaksis atau reaksi alergi berat harus mendapat pemantauan ketat di tempat yang dianggap mampu mengatasi reaksi alergi tersebut. Mereka yang pada suntikan pertama mengalami anafilaksis tidak akan diberikan suntikan kedua.

Jika terjadi kejadian reaksi alergi lokal berupa kulit kemerahan saja apakah perlu diterapi?

Reaksi kemerahan di kulit biasanya akan hilang sendiri, namun boleh diberikan terapi simtomatik.

Apa efek samping vaksin Covid-19 yang sering ditemukan?

Efek samping lokal contohnya kemerahan, nyeri pada tempat suntikan, dan bengkak. Efek samping sistemik contohnya sakit kepala, mialgia, fatigue, ada juga yang suhunya naik tetapi tidak tinggi. Efek samping ini umumnya membaik sendiri.

Bagaimana pemantauan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) biasa dilakukan, terutama pada vaksin darurat seperti Covid-19 ini?

KIPI adalah bagian dari proses vaksinasi yang selalu dipantau pada vaksinasi apapun. Untuk vaksin jenis baru, pemantauan akan lebih ketat karena efek samping yang mungkin timbul pada vaksinasi massal mungkin akan lebih banyak dari pada efek samping yang ditemukan pada uji klinik.

Apakah KIPI sama dengan efek samping?

KIPI adalah semua kejadian yang terjadi setelah 28 hari pasca-vaksinasi. Kejadian tersebut dapat berhubungan atau tidak ada hubungannya dengan vaksinasi. Jadi cakupan KIPI lebih luas dari pada efek samping.

Apa saja contoh KIPI yang kerap terjadi?

KIPI yang dapat terjadi dapat berupa efek samping lokal atau sistemik atau kejadian lain yang terjadi dalam 28 hari setelah vaksinasi.

Pertanyaan Seputar Vaksin Covid-19 pada Kelompok dan Kondisi Khusus

Apakah ibu hamil atau menyusui dapat diberikan vaksin Covid-19?

Belum ada data yang cukup tentang keamanan dan efektivitas vaksin Covid-19 pada kelompok ini. Namun, organisasi dokter kebidanan Indonesia menyatakan bahwa vaksinasi bagi ibu hamil boleh asalkan ibu tersebut memahami risiko yang bisa terjadi dan dengan diberikan vaksin jenis virus yang diinaktivasi.

Apakah pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 dapat diberikan vaksin Covid-19?

Pasien DM tipe 2 dengan kontrol glikemik yang baik dan tidak sedang dalam kondisi metabolik akut dapat diberikan vaksin Covid-19

Apakah penderita lupus eritematosus sistemik (LES) atau penyakit autoimun lainnya yang sudah terkontrol dengan pengobatan dapat diberikan vaksin Covid-19?

Belum ada data, masih menunggu data tentang keamanan dan efektivitas vaksin Covid-19 pada penyintas autoimun sistemik. Untuk vaksin yang lain pada penyakit autoimun sebenarnya para ahli masih mempunyai pendapat yang berbeda.

Pada pasien hipertensi, berapa batas tekanan darah untuk dapat diberikan vaksinasi Covid-19?

Hipertensi dengan batasan tekanan darah < 180/110 mmHg (dengan atau tanpa obat).

Apakah semua pasien HIV atau imunodefisiensi lainnya tidak direkomendasikan untuk diberikan vaksin Covid-19? Bagaimana jika virus HIV sudah tidak terdeteksi dalam terapi antiviral?

Pada pasien HIV, vaksin COvid-19 sebaiknya diberikan ketika jumlah CD4 lebih dari 200 sel/mm3 dengan klinis baik dan tidak ada infeksi oportunistik. Kadar viral load tidak menjadi pertimbangan tersendiri.

Apakah orang yang sedang mengalami infeksi akut dapat diberikan vaksin Covid-19?

Jika infeksinya sudah teratasi maka dapat diberikan vaksin Covid-19. Pada infeksi tuberkulosis/TB, pengobatan OAT perlu diberikan minimal 2 minggu sebelum pemberian vaksin Covid-19.

Apakah orang dengan usia > 59 tahun layak diberikan vaksinasi Coronavac?

Kelayakan pemberian vaksinasi Coronavac pada orang dengan usia > 59 tahun ditentukan oleh kondisi frailty (kerapuhan) dari orang tersebut, yang diperoleh dari kuesioner RAPUH.

Apakah penyintas Covid-19 dapat diberikan vaksin Covid-19?

Penyintas Covid-19 jika sudah sembuh minimal 3 bulan, maka dapat diberikan Covid-19.

Apakah orang yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19 dapat menjadi pendonor terapi plasma konvalesen?

Orang yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19 saat ini tidak direkomendasikan untuk menjadi pendonor terapi plasma konvalesen.

Apakah orang yang sudah menerima vaksin Covid-19 Sinovac boleh mendonorkan darahnya?

Penerima vaksinasi Sinovac boleh melakukan donor darah setelah 3 hari pasca vaksinasi apabila tidak tidak terdapat efek samping vaksinasi.

Apakah penggunaan obat-obatan rutin dapat berhubungan dengan pembentukan antibodi pasca vaksinasi Coronavac?

Penggunaan obat-obatan rutin tidak berhubungan dengan pembentukan antibodi pasca vaksinasi Coronavac (misalnya statin, antiplatelet, dll)

Pertanyaan Seputar Praktis Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19

Apakah vaksin Covid-19 bisa digunakan bersamaan dengan vaksin lainnya? Jika tidak, berapa lama jarak antara vaksin Covid-19 dengan vaksin jenis lainnya, misalnya hepatitis B yang diberikan 3 kali?

Sebenarnya boleh, namun karena vaksin baru dan perlu pengamatan lebih ketat untuk KIPI, sebaiknya jangan diberikan bersamaan dengan vaksin lain dulu. Disarankan diberikan jarak minimal 1 bulan. Untuk vaksin hepatitis B, yang diutamakan adalah vaksin pertama dan kedua yang akan meningkatkan antibodi. Suntikan ketiga boleh dimundurkan 1 bulan jika sekiranya bertepatan dengan jadwal vaksin Covid-19.

Pada pemberian vaksin Sinovac, bagaimana jika kita tidak melaksanakan suntukan kedua pada hari ke-14, misalnya karena sakit atau ada halangan lain?

Suntikan kedua dapat diberikan paling lambat 28 hari setelah suntikan pertama. Jika dilakukan setelah 28 hari kemudian, titer antibodi neutralisasi yang terbentuk mungkin kurang.

Apakah ada pemeriksaan sebelum dan sesudah vaksin Covid-19? Apakah sebelum vaksin Covid-19 perlu dilakukan swab PCR atau antigen? Apakah sesudah 2 kali vaksin perlu diperiksa kadar antibodi terhadap SARS-CoV-2?

Pada vaksinasi untuk masyarakat, pemeriksaan tersebut tidak diperlukan. Pemeriksaan tersebut hanya dilakukan pada uji klinik atau penelitian.

Apakah ada obat yang tidak boleh dikonsumsi sebelum pemberian vaksin Covid-19?

Obat yang dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, seperti misalnya sitostatika dan steroid dosis tinggi, sebaiknya tidak diberikan vaksin Covid-19.

Apakah setelah diberikan vaksin Covid-19, dapat menyebabkan tes rapid antibodi reaktif? Bagaimana membedakannya dengan orang yang tes rapid reaktif tanpa vaksinasi?

Kemungkinan imunoglobulin M dan G (IgM dan IgG) akan naik. Dibedakannya melalui anamnesis.

Apakah ada tanda-tanda vaksin Covid-19 yang kita berikan berhasil membentuk antibodi yang memproteksi atau tidak?

Pemeriksaan kadar antibodi hanya dilakukan pada uji klinik. Pada imunisasi massal tidak perlu dilakukan pemeriksaan kadar antibodi.

Apakah boleh jika vaksin Covid-19 pertama diberikan jenis A, sedangkan yang kedua jenis B, dua vaksin yang berbeda?

Pada prinsipnya sebaiknya vaksin yang digunakan sama. Untuk vaksin dengan jenis yang berbeda, harus ada uji klinik dahulu.

Kalau pada tahun ini kita sudah menggunakan vaksin Sinovac sebanyak 2 kali, apakah tahun depan kita boleh menggunakan vaksin jenis lain?

Kita belum mengetahui apakah vaksin Covid-19 memerlukan booster di kemudian hari. Jika memang diperlukan booster, sebaiknya diberikan vaksin dengan merek vaksin yang sama. Jika tersedia vaksin merek yang sama, maka sebaiknya menggunakan dengan platform yang sama (misalnya dengan sesama vaksin dari virus yang diinaktivasi). Penggunaan vaksin disesuaikan dengan ketersediaan serta indikasinya. Sebagai contoh, usia lanjut pilihannya adalag vaksin AstraZeneca, Moderna, atau Pfizer yang berdasarkan uji klinis fase 3 sudah terbukti untuk usia lanjut.

Jika seseorang hasil serologi IgG (rapid) reaktif, namun swab PCR SARS-CoV-2 negatif, apakah masih perlu diberikan vaksin Covid-19?

Jika kadar IgG SARS-CoV-2 rendah, dapat diberikan.

Apakah setelah diberikan vaksin Covid-19, hasil pemeriksaan serologi pasien akan reaktif? Apakah pemeriksaan serologi diperlukan sebelum vaksin Covid-19?

Setelah vaksinasi mungkin serologi IgM dan IgG meningkat. Tidak diperlukan pemeriksaan serologi sebelum vaksinasi.

Bagaimana cara mengetahui vaksins udah mengalami kerusakan setelah disimpan atau dalam pengiriman?

Di botol vaksin biasanya ada penanda yang akan berubah ketika vaksin sudah rusak.

Referensi

  1. Burhan E, Susanto AD, Nasution SA, Ginanjar E, Pitoyo CW, Susilo A, et al. Pedoman tatalaksana Covid-19. 3rd ed. Burhan E, Susanto AD, Isbaniah F, Nasution SA, Ginanjar E, Pitoyo CW, et al., editors. Jakarta: PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN, IDAI; 2020.
  2. Djauzi S, Hasibuan, AS, Yunihastuti E, Koesnoe S, Rengganis I, Karjadi TH, et al. Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang vaksin Covid-19: Berdasarkan informasi yang didapat hingga 24 Maret 2021. 2021. Jakarta: PAPDI

Tinggalkan Balasan