Kematian Akibat Refeeding Syndrome

Cecep Suryani Sobur Gastroenterologi, Kedokteran Leave a Comment

Pernahkah Anda mendengar istilah refeeding syndrome? Barangkali Anda pernah diceritakan mengenai kisah tawanan perang yang baru saja dibebaskan. Mereka tampak kurus kering, malnutrisi. Dikarenakan rasa iba, tantara yang membebaskan tawanan tersebut memberi makanan kepada mereka. Para tawanan itu pun kemudian dengan lahap menyantap makanan tersebut. Setelah sekian lama disiksa dan diperlakukan tidak layak, akhirnya mereka dibebaskan. Namun, apa yang terjadi setelah itu? Para tawanan itu kemudian makin sakit dan bahkan beberapa dari mereka kemudian meninggal medada. Ilustrasi di atas adalah contoh dari keadaan yang disebut refeeding syndrome. Suatu keadaan yang berbahaya akibat langsung memberi makanan yang banyak pada orang yang dalam keadaan malnutrisi.

Etiologi dan Patogenesis Refeeding Syndrome

Refeeding syndrome merupakan suatu keadaan gangguan metabolisme yang terjadi saat penderita malnutrisi diberikan nutrisi yang berlebih dalam waktu singkat. Dalam keadaan kelaparan, terjadi perubahan metabolisme berupa penurunan metabolisme, penurunan level insulin, dan peningkatan glukagon. Pada tahap awal kelaparan, terjadi pelepasan simpanan glukosa melalui peroses glikolisis. Namun, setelah persediaan glikogen habis, dalam 2-3 hari terjadi glukoneogenesis dari asam amino yang disertai dengan lipolisis. Dalam keadaan ini, tetap terjadi pemanfaatan sumber nutrisi baik mineral dan vitamin (terutama fosfat, kalium, magnesium, dan tiamin) dari persediaan tubuh.

Semakin lama proses starvasi, maka kondisi ketersediaan nutrisi tersebut semakin sedikit. Apabila kemudian pasien diberikan makanan yang banyak, maka sebagai respon dari masuknya glukosa, terjadi peningkatan insulin dan penurunan glukagon. Metabolisme tubuh berubah menjadi anabolisme. Terjadi perangsangan proses sintesis glikogen, lemak, dan protein. Proses-proses ini banyak memerlukan mineral seperti fosfat dan magnesium serta kofaktor enzim seperti tiamin. Selain itu, adanya insulin memicu penyerapan kalium ke dalam sel diikuti dengan fosfat dan magnesium. Air juga ikut keluar ke jaringan sehingga terjadilah edema. Karena cadangan tubuh sudah sangat menipis, maka terjadi penurunan secara drastis kalium, magnesium, dan fosfat dalam darah. Hal ini menyebabkan berbagai macam gangguan organ mulai dari otak, ginjal, sampai gangguan jantung berupa aritmia

Ciri-ciri dan Diagnosis Refeeding Syndrome

Beberapa ciri keadaan yang berhubungan dengan keadaan refeeding syndrome adalah sebagaiberikut:

  • Anoreksia nervosa
  • Kecanduan alkohol kronik
  • Lanjut usia, terutama penghuni panti
  • Diabetes yang tidak terkontrol
  • Malnutisi kronis (marasmus)
  • Obesitas morbid yang mengalami penurunan berat badan drastis
  • Penyakit malabsorpsi kronis seperti penyakit Crohn’s, sistik fibrosis, short bowel syndrome
  • Penyakit kronis yang berhubungan dengan malnutrisi seperti kanker, PPOK berat,
    dan sirosis hepatis
  • Pemakaian diuretik jangka panjang (deplesi elektrolit)
  • Pemakaian antasida jangka panjang (deplesi fosfat)

Adapun keadaan faktor risiko atau kondisi dimana kita waspada akan terjadinya refeeding syndrome terbagi menjadi faktor risiko mayor dan minor. Faktor risiko mayor adalah sebagai berikut:

  • Indeks massa tubuh <16 kg/m2
  • Penurunan berat badan tanpa disengaja >15% berat badan dalam tempo 3–6 bulan
  • Asupan kurang atau tidak ada sama sekali >10 hari
  • Kadar rendah dari kalium, fosfat, magnesium sebelum diberikan asupan nutrisi.

Faktor risiko minor adalah sebagai berikut:

  • IMT <18,5 kg/m2
  • Penuruna berat badan tanpa sengaja 10-15% dalam 3-6 bulan terakhir
  • Tidak ada asupan atau sedikit makanan dalam 5-10 hari
  • Riwayat alkoholisme atau obat yaitu insulin, kemoterapi, antasida, dan diuretik

Pasien dinyatakan memiliki risiko tinggi mengalami refeeding syndrome apabila ada setidaknya satu faktor risiko mayor atau dua risiko minor. Adapun untuk diagnostik, dapat dibagi menjadi diagnostik definitif yaitu apabila terjadi penurunan kadar fosfat serum disertai munculnya akumulasi cairan ekstraseluler patologis, dan kemungkinan (probable) refeeding syndrome apabila ada penurunan kalium atau magnesium disertai adanya akumulasi cairan ekstraseluler patologis

Pemberian Nutrisi pada Penderita dengan Risiko Tinggi Refeeding Syndrome

Pada pasien dengan risiko tinggi refeeding syndrome, pemberian kalori dapat dimulai pada 10 kkal/kg/hari yang dinaikan secara gradual dalam satu minggu. Pada 10 hari pertama pemberian makanan, ditambahkan tiamin oral 200–300 mg/hari dan vitamin B kompleks tiga kali per hari atau vitamin B kompleks intravena. Disarankan pula mendapatkan suple-mentasi multivitamin dan mineral secara seimbang. Saat perawatan, dilakukan pemberianelektrolit berupa kalium 2–4 mmol/kg/hari, fosfat 0,3–0,6 mmol/kg/hari dan magnesium 0,2 mmol/kg/hari IV atau oral 0,4 mmol/kg/hari. Untuk lebih jelas, penatalaksanaan refeeding syndrome dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

Alur tatalaksana pasien dengan risiko tinggi refeeding syndrome
Alur tatalaksana pasien dengan risiko tinggi refeeding syndrome

Kesimpulan

Seringkali dalam menemukan malnutrisi, keinginan pertama kali adalah dengan segera memberikan nutrisi yang cukup untuk dapat memperbaiki status nutrisi dengan cepat. Namun, ketergesaan dapat berakibat fatal! Pemberian nutrisi langsung dengan jumlah banyak bisa menimbulkan kematian. Diperlukan cara yang tepat dan bertahap agar tubuh dapat bersiap menerima nutrisi dalam jumlah yang cukup. Mulailah dengan jumlah kecil dan ditingkatkan kandungan nutrisinya dalam pola yang bertahap.

Sumber

  1. Mehanna HM, Moledina J, Travis J. Refeeding syndrome: what it is, and how to prevent and treat it. BMJ. 2008 Jun 28;336(7659):1495–8.
  2. Walmsley RS. Refeeding syndrome: Screening, incidence, and treatment during parenteral nutrition. J Gastroenterol Hepatol. 2013;28(S4):113–7.

Tinggalkan Balasan