Hepatitis B pada Kehamilan: Bagaimana Mencegah Penularannya?

Cecep Suryani Sobur Hepatologi, Kedokteran Leave a Comment

Hepatitis B pada kehamilan penting karena merupakan salah satu jalur utama penukaran infeksi hepatitis B khususnya di Indonesia. Kasusnya cukup sering ditemukan sehingga salah satu penyakit yang harus diwaspadai menular dari ibu ke janin saat kehamilan adalah hepatitis B.

Untuk Wanita Hamil Selalu Ingat

  • Screening atau tes HBsAg untuk deteksi hepatitis B kronik pada kehamilan dilakukan pada trimester pertama kehamilan
  • Ibu hamil yang menderita hepatitis B kronis dengan HBV-DNA > 200.000 IU/mL atau HBsAg kuantitatif >4log10 maka pemberian TDF dimulai saat usia kehamilan 24-28 minggu dan diteruskan sampai 12 minggu setelah melahirkan
  • Pada ibu dengan HBsAg positif yang tidak diterapi atau terapi lain selain tenofovir TDF, tidak direkomendasikan untuk menyusui.

Pentingnya Penanganan Hepatitis B pada Kehamilan

Hepatitis B kronik adalah salah satu penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Memerlukan upaya waktu yang lama untuk mengendalikan penyakit tersebut. Salah satu faktor yang mendorong terjadinya hepatitis B kronik adalah lama waktu paparan infeksi. Selain itu, setengah dari penderita hepatitis B kronik tertular saat perinatal atau saat waktu bayi.

Infeksi virus hepatitis B saat janin memiliki pertimbangan tersendiri karena efek infeksi hepatitis B pada kehamilan, potensi transmisi atau penularan infeksi dari ibu ke janin, pencegahan dengan pemberian obat antiviral, dan potensi teratogenik dari obat antiviral yang diberikan.

Efek Infeksi Hepatitis B pada Kehamilan

Hepatitis B tidak mempunyai efek teratogenik (kecacatan janin) atau meningkatkan kematian pada kehamilan. Namun, apabila terjadi infeksi akut hepatitis B, dikaitkan dengan peningkatan prematuritas dan berat bayi lahir rendah. Selain itu, didapatkan peningkatan diabetes mellitus gestasional, perdarahan anterpartum dan persalinan preterm pada ibu hamil dengan hepatitis B kronik.

Namun, akan terjadi perbedaan apabila hepatitis B telah menjadi sirosis. Pada sirosis dekompensata, biasanya amenorea karena disfungsi aksis hipotalamus-hipofisis. Akan tetapi, masih mungkin terjadi kehamilan pada sirosis yang terkompesasi atau sirosis awal walaupun dengan risiko kematian janin sampai 50%.

Risiko utama kehamilan dengan sirosis adalah pecah varises esofagus terutama pada trimester kedua dan saat persalinan. Risiko lainnya berupa sirosis dekompensata, ikterik, dan ruptur aneurisme splenika. Sebelum kehamilan, pasien dengan sirosis harus menjalani endoskopi atau tranplantasi hati. Jika terjadi perdarahan variseal, ditindaklanjuti dengan terapi endoskopi dan penggunaan vasopresin tidak diperbolehkan pada kehamilan. Secara umum persalinan dilakukan dengan per vaginam kecuali pasien dengan varises esifagus yang besar.

Efek Kehamilan pada Infeksi HBV

Sistem imunitas pada ibu mengalami perubahan selama kehamilan. Terdapat pergeseran keseimbangan antara Th1 dan Th2 dimana pada kehamilan lebih bergeser ke Th2. Hal tersebut menyebabkan peningaktan sel T regulator atau Treg yang kemudian menekan respon imunitas terhadap HBV.

Modifikasi tersebut menyebabkan peningkatan HBV DNA dan penurunan transaminase. Setelah persalinan, keseimbangan akan kembali ke seperti semula dan dapat menyebabkan peningkatan rekasi imunitas terhadap HBV yang ditandai penurunan HBV DNA dan peningkatan transaminase.

Penularan Virus Hepatitis B Perinatal

Penularan perinatal dari HBV merupakan salah satu rute transmisi yang sering terjadi di seluruh dunia. Infeksi perinatal pada bayi diketahui dengan terdeteksinya HBsAg setelah 6 bulan pasca persalinan. Pemeriksaan anti-HBcAg atau anti-HBeAg tidak bisa dilakukan karena kedua antibodi tersebut dari ibu bisa melewati plasenta dan bertahan sampai 12-24 bulan sehingga bisa positif palsu.

Tanpa upaya pencegahan, prevalensi tertularnya bayi dari ibu cukup tinggi. Angka tersebut yaitu 70-90% pada bayi dengan ibu HBeAg positif, 25% pada ibu dengan HBeAg negatif/anti-HBeAg negatif, dan 12% pada ibu dengan HBeAg negatif/anti-HBeAg positif. Dengan demikian, sangat penting untuk dilakukan penapisan infeksi HBV pada wanita yang akan hamil.

Untuk ibu dengan hepatitis B kronik, maka dilakukan pencegahan penularan dengan pemberian HBIG dan vaksin hepatitis B pada bayi yang baru lahir. Namun, walaupun dengan pemberian pencegahan ini masih ada sekitar 3-13% bayi yang terinfeksi HBV. Kejadian ini terutama berhubungan dengan tingginya HBV DNA ibu terutama dengan HBeAg positif. Selain itu, HBeAg yang masuk ke janin menimbulkan toleransi sel T janin terhadap HBV sehingga memicu infeksi intrauterin.

HBV juga dapat menginfeksi sel germinal termasuk sel spermatogenik. Hal ini memungkinkan HBV yang berada dalam genom ikut terbawa oleh sperma dan kemudian menularkan HBV dari ayah ke janin.

Pencegahan Penularan Hepatitis B dari Ibu ke Janin/Bayi

Upaya mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayinya pada kondisi kehamilan dengan hepatitis B kronik meliputi dua hal penting:

  1. Pemberian hepatitis B imunoglobulin (HBIG) dan vaksinasi untuk bayi
  2. Pemberian terapi penekan hepatitis B pada ibu

Pemberian HBIG dan Vaksinasi pada Bayi

  • HBIG diberikan segera setelah lahir (dalam 12 jam)
  • Tiga kali dosis vaksinasi HBV dalam 6-12 bulan
    • Saat lahir
    • Usia 4-8 minggu
    • Usia 6 bulan

Pemberian Terapi HBV saat Hamil

Untuk kasus hepatitis B pada kehamilan, terapi yang aman pada kehamilan adalah telbivudin dan tenofovir (TDF). Dikarenakan barier resistensi yang tinggi, pemberian terapi TDF lebih disarankan. Adapun menurut rekomendasi dari EASL adalah sebagai berikut:

  • Skrining HBsAg untuk kehamilan pada trimester pertama
  • Wanita dengan hepatitis B kronik dan berencana untuk hamil tanpa fibrosis lanjut, maka terapi ditunda sampai setelah kelahiran
  • Wanita hamil dengan hepatitis B kronik dan fibrosis yang lanjut diterapi dengan TDF (tenofovir)
  • Jika wanita hamil sudah mendapat terapi NA (nucleos(t)ida analog) sebelumnya, maka TDF harus diteruskan sedangkan ETV (entecavir) atau NA lainnya diganti dengan TDF
  • Jika HBV DNA >200.000 IU/mL atau HBsAg >4log10 IU/mL, diberikan profilaksis antiviral dengan TDF dimulai pada usia kehamilan 24-28 minggu dan diteruskan sampai 12 minggu setelah persalinan
  • Menyusui tidak atau bukan merupakan kontraindikasi pada ibu dengan HBsAg positif baik yang tidak diobati atau dalam terapi TDF

Untuk lebih memudahkan, berikut adalah algoritme mengenai kapan ibu hamik dengan hepatitis B kronis mendapatkan terapi:

Algortime pemberian terapi untuk hepatitis B pada kehamilan
Algortime pemberian terapi untuk hepatitis B pada kehamilan

Pengaruh Rute Persalinan pada Penularan Hepatitis B

Rute persalinan pervaginam membawa risiko penularan karena tingginya HBsAg pada cairan vagina. Jika tertelan saat persalinan oleh janin, bisa meningkatkan risiko penularan. Persalinan dengan cara sectio dapat mengurangi kemungkinan tertularnya infeksi HBV. Tetapi, data-data mengenai peningkatan persalinan pervaginam dibandingkan dengan sectio tidak terlalu konsisten. Hal ini menyebabkan para ahli menganggap persalinan dengan sectio tidak terlalu berpengaruh pada risiko penularan hepatitis B.

ASI pada Ibu dengan Hepatitis B Kronik

Menyusui juga merupakan kemungkinan faktor risiko penularan HBV. Penularan bisa dari virus yang ada pada ASI maupun karena luka pada puting yang menjadi sumber penularan. Akan tetapi, signifikansi dari rute ini masih diragukan dan sampai saat ini tidak ada pelarangan untuk pemberian ASI dari ibu dengan hepatitis B kronik.

Jadwal Vaksinasi Hepatitis B untuk Bayi

Vaksinasi merupakan salah satu pilar penting dalam mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi. Berikut adalah jadwal imunisasi pada berbagai kelompok usia:

Kelompok usiaJumlah dosisDosisJadwal (bulan)
Bayi, anak-anak (<1-10 tahun)3 atau 410 μg (0,5 mL)0, 1-2, 4-6 atau
0, 1, 2, 12
Remaja 10-19 thn3 atau 410 μg (0,5 mL)0, 1-2, 4-6 atau
0, 12, 24 atau
0, 1, 2, 12
Dewasa ≥ 20 tahun3 atau 420 μg (1 mL)0–2, 1–4, 4–6 atau
0, 1, 2, 12
Hemodialisis < 20 thn410 μg (0,5 mL)0, 1, 2, 6
Hemodialisis ≥ 20 thn440 μg (2 mL)0, 1, 2, 6

Kesimpulan

Penularan hepatitis B dari ibu ke janin masih merupakan rute utama penularan hepatitis B. Diperlukan kesadaran dalam melakukan tes screening hepatitis B pada sebelum dan awal masa kehamilan. Untuk informasi lainnya mengenai pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke janin dapat pula dilihat pada video di bawah ini:

Referensi

  1. Borgia G, Carleo MA, Gaeta GB, Gentile I. Hepatitis B in pregnancy. World J Gastroenterol. 2012;18(34):4677–83.
  2. Patton H, Tran TT. Management of hepatitis B during pregnancy. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. 2014;11(7):402–9.
  3. Tran TT. Hepatitis B in Pregnancy. Clin Infect Dis. 2016 Jun 1;62(suppl 4):S314–7.
  4. Wong F, Pai R, Van Schalkwyk J, Yoshida EM. Hepatitis B in pregnancy: A concise review of neonatal vertical transmission and antiviral prophylaxis. Ann Hepatol. 2014;13(2):187–95.

Tinggalkan Balasan