By Photo Credit: C. GoldsmithContent Providers: CDC/ C. Goldsmith, P. Feorino, E. L. Palmer, W. R. McManus - This media comes from the Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image Library (PHIL), with identification number #10000.Note: Not all PHIL images are public domain; be sure to check copyright status and credit authors and content providers., Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=3909584

Benarkah HIV Bisa Disembuhkan?

Cecep Suryani Sobur Alergi-Imunologi, Kedokteran, Tropik-Infeksi Leave a Comment

Apakah benar HIV bisa disembuhkan? Petanyaan mengemuka kembali setelah pada Maret 2019 ini diramaikan dengan berita mengenai “London Patient“, julukan untuk seorang penderita HIV yang dilaporkan sembuh. Otomatis ini adalah laporan yang kedua setelah sebelumnya Timothy Ray Brown atau dikenal dengan “Berlin Patient” dinyatakan sembuh dari HIV. Bagaimana kisahnya dan apakah memang HIV saat ini dapat disembuhkan? Berikut paparannya. (Photo Credit: C. Goldsmith Content Providers: CDC/ C. Goldsmith, P. Feorino, E. L. Palmer, W. R. McManus)

Epidemi Global HIV

Infeksi HIV merupakan pandemi global dimana kasus AIDS telah dilaporkan dari hampir setiap negara di dunia. Jumlah penderita tahun 2009 diperkirakan mencapai 33 juta orang dengan 95% penderita tinggal di negara berpendapatan menengah ke bawah. Sekitar 50% penderita adalah perempuan dan terdapat 2,5 juta penderita berusia di bawah 15 tahun.

Di tahun 2009 diperkirakan terdapat 2,6 juta kasus baru, menurun dibandingkan puncak epidemi tahun 1997 yang mencapai 3,2 juta kasus baru tiap tahun. Walaupun pelaporan kasus AIDS pertama kali dilaporkan dari negara barat, namun saat ini diketahui bahwa epidemi HIV dimulai dari Afrika bagian Sub-Sahara. Wilayah tersebut adalah tempat yang paling terpukul oleh epidemi HIV dimana diperkirakan 2/3 total penderita (22,5 juta orang) tinggal di daerah tersebut. Seperti kita ketahui, akibat epidemi HIV ini angka harapan hidup banyak negara terutama di Afrika menurun secara signifikan seperti tampak pada gambar di bawah ini:

Akibat HIV pada angka harapan hidup beberapa negara di Afrika
Akibat HIV pada angka harapan hidup beberapa negara di Afrika

Di Asia, Asia Tenggara memiliki prevalensi HIV tertinggi namun hanya Thailand yang memiliki prevalensi penderita HIV >1% pada populasi dewasa. Walaupun prevalensinya cukup rendah, namun dikarenakan jumlah populasi yang besar, maka secara jumlah absolut, terdapat populasi penderita HIV yang cukup besar di Asia Timur, Tenggara, dan Selatan (sekitar 4,4 juta penderita). Di bwah ini adalah gambaran sebaran epidemi HIV di dunia (data tahun 2009).

Epidemiologi global HIV
Epidemiologi global HIV

Terapi Standar HIV

Saat ini terapi utama HIV adalah HAART (highly active antitertoviral therapy) yang terdiri dari gabungan beberapa ARV. Inisiasi atau dimulainya pemberian ARV kebanyakan bukanlah hal yang emergensi. Saat ini mulainya pemberian ARV adalah sesegera mungkin tanpa perlu menunggu munculnya AIDS atau batasan nilai CD4+ berapapun. Namun inisiasi diprioritaskan pada penderita dengan gejala imudefisiensi yang berat (stadium klinis WHO 3 atau 4) atau CD4 ≤350 sel/mm3. Untuk jenis ARV ini dapat pula disimak di video di bawah ini:

Secara keseluruhan, pemberian ARV dapat menurunkan angka kematian secara signifikan. Walaupun demikian, tingkat kematian juga tertinggi pada tiga bulan pertama pemberian ARV sehingga memerlukan perhatian dan observasi yang lebih seksama. Dengan pemberian HAART ini penderita HIV dapat hidup normal dengan angka harapan hidup yang juga mendekati orang biasa yang tanpa HIV.

Berlin Patient

Konsep bahwa HIV bisa disembuhkan muncul pada awal dekade 2000. Pada tahun 2009 di dalam The New England Journal of Medicine (NEJM) dilaporkan laporan kasus patient HIV yang mendapat kontrol infeksi HIV jangka panjang setelah menerima transplantasi sel punca. Pasien yang dimaksud adalah Timothy Ray Brown yang merupakan penderita HIV berkebangsaan Ameriksa Serikat. Pada saat kasusnya dilaporkan, Brown mendapat julukan atau nama alias “Berlin Patient”.

Pasien etrsebut mendapat terapi sel punca karena menderita leukemia akut tipe AML (acute myeloid leukemia), FAB M4 dengan sitogenetik normal. Sebelumnya pasien tersebut telah terdiagnosis HIV 10 tahun sebelumnya dan terkontrol dengan ARV dan tidak ada tanda-tanda AIDS. Saat terdiagnosis AML, diketahui klinis dan CD4 masih dalam kondisi baik serta viral load HIV tidak terdeteksi.

Untuk terapi AML, pasien tersebut kemudian menerima regimen terapi induksi AML dua kali dan satu kali konsolidasi. Pada saat induksi pertama, muncul kondisi hepatotoksik sehingga ARV kemudian dihentikan. Setelah dihentikan terjadi viral rebound sehingga virus HIV menjadi terdeteksi. Setelah itu segera setelah kondisi membaik, ARV dilanjutkan kembali dan 3 bulan kemudian HIV kembali tersupresi sampai tidak terdeteksi.

Tujuh bulan setelah muncul AML dan menjalani terapi, penyakit leukemianya kembali relaps. Akhirnya diputuskan untuk mendapatkan terapi transplantasi stem cell allogenik sel punca CD34 dari darah periper. Donor yang diambil dicari dengan mutasi ganda delta32/delta32 dari CCR5. Pasien kemudian menjalani terapi transplantasi sel punca tersebut. Adapun HAART diberikan sampai satu hari sebelum pasien menjalani transplantasi sel punca.

Setelah menjalani terapi transplantasi pertama, 332 hari kemudian pasien mengalami relaps, menjalani terapi reinduksi yang diikuti dengan transplantasi yang kedua. Setelah menjalani dua kali transplantasi ini kemudian mengalami remisi sampai saat ini.

Mutasi Koreseptor CCR5

Infeksi HIV-1 terhadap sel limfosit selain memerlukan reseptor CD4 juga membutuhkan koreseptor chemokine receptor 5 (CCR5) atau CXC chemokine receptor (CXCR4). Mutasi homozigot berupa delesi 32-bp (delta32/delta32) pada alel CCR5 menyebabkan reseptor yang inaktif sehingga sel limfosit resisten terhadap infeksi HIV-1.

Dengan memberikan donor yang memiliki mutasi terhadap CCR5 ini, diharapkan nanti sistem imunitas yang baru tidak dapat diinfeksi oleh HIV sehingga infeksi HIV dapat diputus dan disembuhkan. Namun, terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan. Yang paling penting adalah ada sebagian virus HIV yang dapat menggunakan koreseptor lain selain CCR5 yaitu CCR4. Jika hal ini terjadi, maka pemberian transplantasi sel punca dengan mutasi CCR5 tidak dapat menghentikan infeksi HIV.

HIV dengan tropisme CXCR4 dan dengan tropisme CCR5
A. HIV dengan tropisme CXCR4. B. HIV dengan tropisme CCR5

London Patient: Bukti Pertama Infeksi HIV Bisa Disembuhkan

Setelah pasien Berlin sembuh, cara tersebut kemudian mulai dipakai untuk pasien-pasien yang lain. Dalam laporan tahun 2014, dilaporkan cara yang sama juga dipakai untuk 6 pasien HIV lainnya. Berikut adalah daftar pasien-pasien tersebut:

Lokasi transplantasiUsia pasien (thn)Tipe kankerTipe graftHasil setelah transplantasi
Utrecht, Belanda53Sindrom mielodisplasiaCombined haploidentical bridge with umbilical-cord bloodMeninggal akibat relaps MDS dan pneumonia setelah 2 bulan
Munster, Jerman51Limfoma Non-HodgkinHLA-mismatched unrelatedMeninggal akibat infeksi setelah 4 bulan
Essen, Jerman30Limfoma Non-HodgkinHLA-matched unrelatedRebound CXCR4-tropic HIV-1, meninggal akibat relaps limfoma setelah 12 bulan
Minneapolis, Amerika Serikat12ALLUmbilical-cord bloodMeninggal akibat GVHD setelah 3 bulan
Santiago, Chile46Limfoma Non-HodgkinHLA-matched relatedMeninggal akibat pneumonia tidak lama setelah prosedur
Barselona, Spanyol37Limfoma Non-HodgkinCombined haploidentical bridge with umbilical-cord bloodMeninggal akibat relaps limfoma setelah 3 bulan
ALL: acute lymphoblastic leukemia; HLA: human leucocyte antigen; GVHD: graft versus host disease; MDS: myelodisplasia syndrome

Dari data di atas tampak bahwa hampir semua pasien meninggal akibat progresi dari penyakit kanker atau efek samping dari tindakan transplantasi. Sampai kemudian di awal 2019 dilaporkan hasil transplantasi pasien lain di London, Inggris yang dikenal dengan London Patient. Pasien ini menderita limfoma Hodgkin, kemudian dilakukan transplantasi stem cell tahun 2012. ARV tetap dilanjutkan namun kemudian dihentikan, dan setelah 18 bulan penghentian ARV, virus tetap tidak terdeteksi dalam darah.

Walaupun harus tetap dilakukan observasi lebih lama, namun setidaknya sebagian besar ilmuwan menganggap ini adalah kasus kedua setelah pasien Berlin yang berhasil sembuh dari HIV.

Risk and Benefit

Jika kita mengacu pada pasien Berlin, memang hal ini adalah bukti konsep bahwa HIV dapat disembuhkan. Akan tetapi, jalan ini sangat berisiko bahkan dikatakan bahwa Timothy R Brown sempat mengalami kritis setelah tranplantasi yang kedua dan membutuhkan pemulihan hampir 6 tahun. Selain itu pada pasien lain tampak bahwa risiko tindakan tersebut begitu tinggi.

Faktor HIV sendiri juga perlu diperhatikan. Kemampuan virus ini untuk bermutasi cukup tinggi sehingga terkadang dapat beralih ke koreseptor lain (CXCR4) untuk bisa tetap menginfeksi sel CD4. Hal ini turut memberikan kesulitan dan keberhasilan tindakan atau terapi yang diberikan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, saat ini dengan yakin dapat dikatakan bahwa HIV dapat disembuhkan. Akan tetapi, cara terapi tidak lazim dan tidak dapat diberikan untuk semua orang. Bisa dikatakan, terapi HAART yang ada saat ini jauh lebih aman dam efektif dalam mengendalikan infeksi HIV. Walaupun demikian, hal ini merupakan bukti konsep bahwa penyakit ini dapat disembuhkan dan menandakan perlu penelitian lebih lanjut agar di masa depan kita bisa mendapatkan terapi yang memberikan kesembuhan permanen pada kasus infeksi HIV. Selain dalam artikel ini, materi ini juga hadir dalam bentuk video di bawah ini:

Sumber

  1. Brown TR. I Am the Berlin Patient: A Personal Reflection. AIDS Res Hum Retroviruses. 2014;31(1):2–3.
  2. Hütter G, Nowak D, Mossner M, Ganepola S, Müssig A, Allers K, et al. Long-term control of HIV by CCR5 Delta32/Delta32 stem-cell transplantation. N Engl J Med. 2009 Feb 12;360(7):692–8.
  3. Verheyen J, Esser S, Kordelas L. More on Shift of HIV Tropism in Stem-Cell Transplantation with CCR5 Delta32/Delta32 Mutation. N Engl J Med. 2014 Dec 18;371(25):2437–8.

Tinggalkan Balasan