Perjalanan Penyakit Infeksi Hepatitis C

Cecep Suryani Sobur Hepatologi, Kedokteran Leave a Comment

Sebagai lanjutan dari artikel mengenai virus hepatitis C, dalam artikel ini akan dilanjutkan mengenai perjalanan penyakit infeksi hepatitis C. Secara garis besar, infeksi hepatitis C dapat menyebabkan penyakit hepatisis C akut dan kronik. Apabila menjadi penyakit hepatitis kronik, maka jika dibiarkan akan menjadi sirosis yang merupakan keadaan dimana dimulainya keadaan gagal hati. Salah satu dampak dari sirosis adalah risiko terjadinya kanker hati. Bagaimana perjalanan infeksi hepatitis C ini?

Epidemiologi dan Kasus Baru Hepatitis C

Infeksi hepatitis C cukup tinggi dengan peningkatan penderita sesuai usia dengan pucak prevalensi terjadi pada kelompok usia 55-64 tahun. Dengan tingginya prevalensi namun belum ditemukannya vaksin hepatitis C yang efektif berarti jalan yang terbaik adalah dengan terapi atau pengobatan hepatitis C. Namun, kebanyakan penderita tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi karena hepatitis C kronis tidak memberikan gejala.

Untuk hepatitis C akut sendiri diperkirakan 4 juta kasus baru setiap tahun. Namun, biasanya ifneksi hepatitis C akut memberikan gejala yang ringan sehingga banyak yang tidak terdiagnosa. Sekitar 18-34% kasus hepatitis C ini akan sembuh dengan sendirinya. Bagi penderita yang sembuh dengan sendirinya dicirikan dengan tidak ditemukannya virus dalam darah.

Faktor Risiko Infeksi Hepatitis C

Sebelum tahun 1990, factor risiko terbesar adalah dari transfusi darah. Namun, saat ini bank darah atau PMI telah melakukan pengecekan sampel darah satu per satu sehingga kemungkinan untuk medapatkan darah yang tercemar menjadi sangat kecil.

Hepatitis C Akut

Yang dimaksud hepatitis C akut adalah infeksi primer dari virus hepatitis C. Maksudnya, infeksi yang terjadi pada seseorang yang sebelumnya belum pernah terjangkit atau tertular infeksi hepatitis C.

Gejala Infeksi Hepatitis C Akut

Apabila terkena infeksi akut hepatitis C, seperti ditulis sebelumnya gejalanya biasanya ringan. Hal yang dapat dirasakan oleh penderita umunya seperti flu ringan. Demam tidak terlalu tinggi, tidak enak badan, atau nyeri otot. Gejala tersebut kadang tidak dirasakan oleh penderita dan hilang dengan sendirinya dalam waktu kruang lebih satu minggu. Hanya sebagian kecil yang memberikan gejala khas hepatitis seperti nyeri perut dan kuning.

Suatu infeksi hepatitis C dianggap kronik apabila setekah enam bulan terinfeksi, masih terdeteksi RNA dari HCV. Oleh sebab itu, jika suatu sebab dicurigai mendapatkan infeksi hepatitis C, misalnya seorang tanaga kesehatan tanpa sengaja tertusuk jarum suntik bekas pasien penderita hepatitis C, maka disarankan untuk memeriksa kadar RNA HCV enam bulan pasca paparan. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang efektif untuk digunakan dalam pencegahan infeksi HCV.

Terapi Hepatitis C Akut

Adapun untuk pengobatan hepatitis C akut ditujukan untuk mencegah progresi menjadi kronik hepatitis C. Obat yang digunakan adalah interferon berupa suntikan peg-interferon α2B (peg-IFN α2B)  1,5 mcg/kg SC setiap hari 24 minggu. Dengan terapi ini, didapatkan SVR sampai 89%. Namun, angka tersebut berlaku untuk pasien yang melengkapi setidaknya 80% terapi. Secara keseluruhan dengan memasukan pasien yang tidak melanjutkan dengan lengkap terapi IFN, jumlah SVR hanya 71%. Dikarenakan tingginya angka SVR dengan terapi tunggal, pemberian kombinasi dengan ribavirin belum banyak dieksplorasi. Dibawah ini adalah pendekatan pemebrian terapi pada hepatitis C akut.

Pengobatan hepatitis C akut
Pengobatan hepatitis C akut

Hepatitis C akut dapat diobati dengan menggunakan terapi berbasis interferon. Interferon yang digunakan peg-IFN 2aB 1,5 mcg/kg SC satu minggu sekali dengan atau tanpa ribavirin dengan durasi pengobatan 24 minggu.

Hepatitis C Kronis

Setelah periode infeksi akut, virus kemudian dapat terus menetap dalam tubuh. Artinya, tubuh tidak bisa menghilangkan virus hepatitis C sehingga virus ini kemudian berkembang biak dalam tubuh untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini dinamakan hepatitis C kronis.

Perkembangan Hepatitis C Akut Menjadi Hepatitis C Kronis

Tidak semua orang yang terkena infeksi hepatitis C akut akan menjadi hepatitis kronis. Perubahan dari hepatitis C akut menjadi kronik kebanyakan tidak memberikan gejala yang dapat dirasakan penderita.

Kadang-kadang setelah mengalami infeksi akut hepatitis C, dapat sembuh dengan sendirinya. Faktor kesembuhan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor genetik seperti IL28B dan alel DQB1*0301 dari MHC (major histocompatibility complex) kelas II.

Faktor kesembuhan lain adalah jenis kelamin wanita, HCV genotip 1, IP-10, dan tentu saja faktor terapi. Individu yang mengalami infeksi akut tanpa beralih ke infeksi kronik tidak mengalami perubahan klinis yang berarti kecuali risiko infeksi ulang tetap mungkin terjadi setelah infeksi pertama.

Terapi Hepatitis C Kronik

Mengenai terapi hepatitis C kronik dapat disimak melalui tautan ini.

Progresi Hepatitis C Kronik Menjadi Sirosis Hati

Hepatitis C kronis merupakan penyakit yang berjalan secara lambat namun persisten. Kejadian sirosis terjadi pada 10-20% pasien yang terinfeksi HCV dan terjadi setelah 20-30 tahun setelah infeksi pertama. Jika sudah terjadi sirosis, kemungkinan untuk mendapatkan kanker hati adalah 1-5% per tahun dengan kemungkinan terjadinya sirosis dekompensata adalah 3-6% per tahun. Apabila sudah timbul sirosis dekompensata, risiko kematian satu tahun berikutnya adalah 15-20%

Koinfeksi Hepatitis C dengan Virus Lainnya

Infeksi hepatitis C banyak ditemukan bersamaan dengan HIV karena rute infeksi yang sama. Selain itu, hepatitis C juga terkadang ditemukan secara Bersama-sama. Keadaan ini dapat mempcepat progresi hepatitits kronik menjadi sirosis dan munculnya kanker hati.

Manifestasi Ekstrahepatik dari Infeksi Hepatitis C

Hepatitis C dapat menimbulkan manifestasi penyakit di luar gejala yang disebabkan karena kerusakan hati. Beberapa penyakit tersebut adalah sindrom sicca, lichen planus, diabetes melitus tipe 2, dan limfoma non-Hodgkin. Dari penderita juga ditemukan terdapat cryoglobulinemia sebanyak 15-35% dengan 5-25% diantaranya menyebabkan mixed cryogoblobulinema dengan gejala penyakit automun. Kerusakan yang didapat bisa glomerulonefritis, vaskulitis sistemik, neuropati perifer, arthritis, dan fenomena Raynaud.

Buku Referensi Kedokteran

Berikut ini adalah beberapa buku teks yang dapat dipilih sebagai bahan pembelajaran khususnya di bidang ilmu dasar kedokteran dan penyakit dalam. Format dapat berupa buku teks fisik maupun e-book (aplikasi Kindle Google Play Store atau Apple Apps Store).

Kesimpulan

Hepatitis C apabila tidak dibiarkan akan menyebabkan sirosis yang berakibat fatal. Sejak ditemukannya DAA, saat ini hepatitis C dapat disembuhkan. Berbeda dari hepatitis B, pada hepatitis C selain menyerang hati juga bisa bermanifestasi di organ lain di luar hati.

Sumber

  1. Sharma SA, Feld JJ. Acute hepatitis C: management in the rapidly evolving world of HCV. Curr Gastroenterol Rep. 2014 Feb;16(2):371.
  2. Westbrook RH, Dusheiko G. Natural history of hepatitis C. J Hepatol. 2014 Nov;61(1 Suppl):S58-68.

Tinggalkan Balasan