Tanggap Menghadapi Bencana Alam dari Sisi Medis

Cecep Suryani Sobur Kedokteran, Kegawatdaruratan Leave a Comment

Belum lama rasanya bencana alam besar berupa gempa di Lombok melanda. Tidak lama kemudian muncul bencana baru berupa gempa dan tsunami yang melanda kawasan Donggala dan Kota Palu, Sulawesi Tengah. Turut beduka cita yang mendalam atas musibah tersebut, semoga tidak banyak jatuh korban, tidak ada gempa besar susulan, dan proses pemulihan tidak menghadapi masalah yang berarti.

Mendengar bencana alam tentu tidak jauh dari bencana kemanusiaan. Infrastruktur hancur, banyak yang terluka, fasilitas penting menajdi lumpuh. Salah satu yang juga terdampak adalah fasilitas kesehatan beserta segala penunjangnya. Padahal, fasilitas kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang penting dan utama bagi korban bencana mulai saat bencana terjadi. Mulai dari dampak segera berupa korban luka atau penyakit yang keadaannya memburuk akibat bencana, sampai dampak jangka panjang, mulai ancaman wabah, epidemi penyakit menular, gangguan psikologis korban bencana, dan lain sebagainya. Tentu saja tenaga kesehatan harus siap menghadapi tantangan memberikan pelayanan yang mencukupi bagi korban bencana.

Sebenarnya pengalaman penulis mengenai penanganan medis dalam tanggap pada bencana alam sangatlah terbatas. Namun, ada beberapa hal yang rasanya perlu disampaikan. Penulis berharap dapat menjadi bahan pemikiran yang mungkin bisa bermanfaat untuk penanganan dan kesiapan medis dalam menghadapi bencana alam.

Tantangan Medis Bencana Alam di Indonesia

Selain dikaruniai kekayaan dan potensi alam serta sumber daya manusia yang melimpah, negara kita juga memiliki potensi bencana yang besar. Masih teringat akan rangkaian bencana alam besar yang bahkan dapat disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia dalam beberapa dekade terakhir. Tentu bencana alam ini tidak menyebabkan kerugian yang sedikit. Harta benda dan terutama kerugian jiwa menjadi kehilangan besar yang terpaksa harus dipikul oleh masyarakat yang berada di daerah bencana.

Layanan medis yang cepat dan tersedia di tempat bencana menjadi bagian yang penting dalam respon terhadap bencana. Akan tetapi, di negara kita, ada beberapa faktor yang menjadi tantangan agar layanan kesehatan dapat tersedia dengan cepat:

  1. Faktor geografis, di mana bentuk negara kepulauan, menyulitkan dalam masalah logistik dan transportasi
  2. Sarana dan prasarana yang kurang merata
  3. Kesediaan tenaga kesehatan yang kurang merata
  4. Fasilitas kesehatan, khususnya yang bersifat mobile
  5. Dana dan sistem pembiayaan kesehatan

Kondisi yang Menjadi Perhatian dalam Kondisi Bencana

Secara medis, ada dua aspek yang harus diperhatikan dalam keadaan bencana yaitu aspek medis dan aspek kesehatan masyarakat.

Aspek Medis Terdampak Bencana Alam

Aspek medis meliputi pelayanan kesehatan terutama mencakup masalah akut yang ditimbulkan seperti luka atau identifikasi pasien meninggal. Beberapa pola atau unit yang dapat dibentuk adalah:

  • Search and rescue (SAR)
  • Triase dan stabilisasi awal
  • Layanan medis yang definitif
  • Evakuasi
  • DVI (disaster victim identification)

Aspek Kesehatan Masyarakat Terdampak Bencana Alam

Aspek kesehatan masyarakat meliputi upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan di level masyarakat, meliputi:

  • Air bersih
  • Makanan
  • Tempat penampungan sementara korban bencana
  • Sanitasi atau kebersihan
  • Aspek keamanan bagi korban
  • Transportasi
  • Komunikasi
  • Disease surveillance
  • Penanganan penyakit endemik maupun epidemik

Keadaan Khusus pada Bencana Alam

Beberapa kondisi juga memerlukan perhatian yang khusus karena kebutuhan serta risiko kesehatannya memburuk dalam kondisi bencana sangat besar, diantaranya:

  • Lanjut usia
  • Korban luka
  • Populasi dengan penyakit kronis
  • Penderita penyakit gagal ginjal yang membutuhkan hemodialisa
  • Kelompok berkebutuhan khusus
  • Wanita hamil
  • Bayi
  • Orang asing

Persiapan Tim Medis Dalam Menanggapi Bencana Alam

Tim Medis dan Logistik

Komposisi tim medis, terdiri dari

  • Ketua tim medis
  • Supevisor medis, bisa dokter bedah atau dokter emergensi
  • Dokter bedah
  • Dokter bedah dengan spesialisasi
    • Ortopedi
    • Bedah plastik
    • Bedah anak
  • Dokter emergensi
  • Anestesi dan critical care
  • Perawat
    • Untuk rawat layanan emergensi
    • Ruang operasi
    • Teknisi bedah
    • Critical care
  • Administrasi
  • Paramedis
  • Terapis
  • Logistik, termasuk farmaasi, biomedis, komunikasi, keamanan
Penanganan kasus trauma pada bencana alam
Kasus trauma banyak terjadi di area terdampak bencana alam

Vaksin untuk Pencegahan Penyakit Menular dalam Kondisi Pasca Bencana Alam

Tidak diragukan lagi, dalam keadaan pasca-bencana, dengan sanitasi yang berkurang serta tempat penampungan yang padat dapat menjadi sumber munculnya wabah atau outbreak penyakit infeksi. Penyakit infeksi yang mudah terjangkit dalam keadaan ini adalah infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia dan pencernaan.

Vaksin dapat memegang peranan penting. Pertama, meningkatkan daya tahan individu terhadap penyakit dan meningkatkan imunitas bersama sehingga orang yang tidak divaksinpun dapat terlindungi karena penyakit tidak mudah berpindah dari orang ke orang. Ada beberapa vaksin yang direkomendasikan untuk digalakan, khususnya selama masa bencana yaitu:

  1. Vaksin terhadap Streptococcus pneumoniae
  2. Vaksin Haemophilus influenzae tipe-b (Hib)
  3. Vaksin rotavirus

Berikut adalah target dan jadwal vaksinasi tersebut:

VaksinDosis minimalDosis penuhTarget usiaJarak antar pemberian
Hib (lyophilized)12-36 minggu - 5 tahun4-8 minggu
PCV 1312-36 minggu - 5 tahun4-8 minggu
RV5 atau RV112-36 minggu - 5 tahun4-8 minggu

Penunjang Lainnya

Kebutuhan yang dirasakan penting dalam keadaan bencana adalah sistem pembiayaan dan asuransi. Pembiayaan tidak sebatas untuk logistik pengobatan namun meliputi pemulihan fasilitas kesehatan untuk setidaknya mengembalikan ke status sebelum bencana. Tidak hanya untuk fasilitas yang dimiliki pemerintah saja namun termasuk fasilitas kesehatan yang dimiliki pihak swasta. Salah satu sumber pembiayaan yang perlu dibuat adalah asuransi bencana yang juga mencakup penjaminan untuk aset seperti rumah sakit dan fasilitas lainnya.

Selain itu, unit-unit fasilitas kesehatan yang sifatnya mobile juga perlu disiapkan agar kebutuhan kesehatan yang sifatnya segera dapat segera dilakukan.

Kesimpulan

Dengan potensi bencana alam yang cukup besar, kesiapan aspek medis sangat penting untuk mengurangi seminimal mungkin jatuh korban serta memulihkan korban yang mengalami gangguan kesehatan akibat bencana. Diperlukan kerja sama berbagai pihak agar layanan kesehatan dalam keadaan bencana agar dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Sumber

  1. Briggs SM. Disaster management teams. Curr Opin Crit Care. 2005;11(6):585–9.
  2. Close RM, Pearson C, Cohn J. Vaccine-preventable disease and the under-utilization of immunizations in complex humanitarian emergencies. Vaccine. 2016;34(39):4649–55.
  3. Ishii M, Nagata T. The Japan medical association’s disaster preparedness: Lessons from the great east japan earthquake and tsunami. Disaster Med Public Health Prep. 2013;7(5):507–12.
  4. Kako M, Arbon P, Mitani S. Disaster health after the 2011 Great East Japan earthquake. Prehosp Disaster Med. 2014;29(1):54–9.
  5. Nollet KE, Komazawa T, Ohto H. Transfusion under triple threat: Lessons from Japan’s 2011 earthquake, tsunami, and nuclear crisis. Transfus Apher Sci. 2016;55(2):177–83.
  6. Zhang L, Liu X, Li Y, Liu Y, Liu Z, Lin J, et al. Emergency medical rescue efforts after a major earthquake: Lessons from the 2008 Wenchuan earthquake. Lancet. 2012;379(9818):853–61.

Tinggalkan Balasan